oleh : AM Fatwa
Tak terasa peristiwa demi peristiwa cepat terlalu. Pagi, petang, siang, malam, silih berganti. Jarang di antara kita yang memperhatikannya, terlebih yang disibukkan oleh hidup yang mempesona dan mengasyikkan. Tahu-tahu jasmani berangsur surut. Waktu dan musim terus beralih dari masa ke masa, mengubah segalanya.
Dalam Alquran banyak disinggung perubahan masa dan waktu, supaya manusia selalu ingat bahwa dia berada dalam kekuasaan Tuhan. Dia tidak mungkin mampu menentang perubahan, baik dalam alam maupun dalam dirinya sendiri. ''Perhatikanlah bulan dan malam, ketika telah pergi. Dan pagi, ketika telah benderang. Sesungguhnya, inilah peristiwa yang sangat besar. Satu peringatan untuk manusia'' (Al-Mudatstsir 32-35).
Dalam hal ini, kematian merupakan peristiwa besar yang mengubah segalanya dan menghentikan seluruh nilai dunia yang pernah begitu dicintainya. Oleh sebab itu, setiap muslim sangat ingin -- di sela-sela timbul tenggelamnya hidup ini -- banyak amal saleh dapat dilakukan, banyak kemelut hidup dapat dipertanggungjawabkan, lalu mengakhiri usianya dengan husnul khatimah, sebagai akhir yang indah. Tentang umur, Rasulullah SAW mengatakan: ''Umur umatku di antara 60 dan 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui itu.'' (H.R. Ibnu Majah).
Dalam praktek, tak banyak orang mencapai usia maksimal yang disebutkan Rasulullah di atas. Banyak di antara kita yang mati muda sebelum mencapai usia 60 tahun. Misalnya baru-baru ini kematian budayawan Betawi, Benyamin S sangat mengejutkan kita semua. Maka tentulah mereka yang melampaui usia maksimal adalah anugerah keistimewaan dari Tuhan dan berkesempatan merenungkannya lebih sungguh-sungguh bahwa sewaktu-waktu penilaiannya akan beralih dari hidup di dunia kepada kehidupan di akhirat. Ketika itu terjadi, Nabi SAW menggambarkan: ''Si mayat diberangkatkan ke kubur beserta keluarga, harta, dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya kembali pulang. Yang tinggal padanya hanyalah amal perbuatan yang baik.'' (H.R. Bukhari-Muslim).
Satu hal yang paling berat menempatkannya dalam hati kita adalah satu hukum yang dijelaskan Alquran bahwa hidup sesudah mati (akhirat) itu lebih baik dan lebih kekal. Lebih lagi adalah menempatkan kata-kata hukum (Sunnatullah) itu dalam perspektif kehidupan sosial-ekonomi kita.
Syukurlah akhir-akhir ini dalam kehidupan sosial kita semakin disadari, masih banyak yang menantikan uluran tangan kaum punya untuk terjembataninya jurang kemiskinan dan situasi kesenjangan. Tetapi hal itu hanya akan dapat dijembatani dengan kesadaran yang dikesankan oleh iman ke dalam hati nurani kaum punya, di mana kelebihan nikmat Allah di tangannya diinvestasikan untuk membentuk teman abadi di akhirat nanti. Alquran mengingatkan: ''Ingatlah pada suatu hari, di mana harta dan putera-puteri tercinta, tiada nilai dan tiada guna, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.'' (As-Syu'ara 88-89). - (ah)
Selasa, 16 September 2008
Minggu, 14 September 2008
Urgensi Bertanya
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran"
(QS 2:186)
Sebagai muslim, kita sangat dituntut untuk mengetahui dan memahami banyak persoalan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ajaran Islam yang kita pahami, insya Allah semakin banyak pula yang bisa kita amalkan, karena mengamalkan ajaran Islam itu harus didahului dengan pemahaman, sementara semakin sedikit yang kita pahami dari ajaran Islam, makin sedikit pula yang bisa kita amalkan, apalagi belum tentu semua yang kita pahami dari ajaran Islam secara otomatis bisa kita amalkan dalam kehidupan ini.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui dan memahami suatu persoalan, termasuk di dalamnya ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan bertanya. Karena itu bertanya menjadi sesuatu yang amat penting. Bahkan pribahasa kita menyebutkan: Malu bertanya, sesat di jalan.
Untuk mengetahui kadar pengetahuan seseorang, kedewasaan pribadinya, bahkan pengalaman hidupnya bisa kita ketahui dari bagaimana seseorang itu mengajukan pertanyaan. Begitu pula halnya dengan ajaran Islam. Bobot pertanyaan, kedalaman jiwa dalam berislam hingga apa sebenarnya yang dikehendakinya bisa terlihat dari pertanyaan para sahabat tentang berbagai persoalan kepada Rasulullah Saw dan ini erat kaitannya dengan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-. Ada banyak faktor yang menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat, faktor-faktor inilah yang disebut dengan asbaabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Al-. Salah satu sebab dari turunnya ayat atau surat di dalam Al- adalah adanya pertanyaan dari para sahabat tentang berbagai persoalan, karena itu ada banyak ayat yang dimulai dengan yasaluunaka (mereka bertanya kepadamu) atau wa idza sa'alaka (apabila kamu ditanya).
DIBALIK PERTANYAAN.
Ketika menafsirkan ayat-ayat yang dimulai dengan kalimat-kalimat pertanyaan, Sayyid Qutub dalam kitab tafsirnya Fii Dzilalil menyebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan banyak hal. Pertama, sifat keterbukaan wahyu, perkembangan gambaran kehidupan dan hubungan-hubungannya serta munculnya persoalan-persoalan baru dalam masyarakat. Kedua, bangkitnya perasaan keagamaan, pengaruh dan dominasi aqidah terhadap jiwa kaum sehingga mereka tidak mau melakukan sesuatu kecuali setelah mendapatkan kemantapan dari pandangan peraturan dalam aqidahnya. Ketiga, tidak mudahnya kaum muslimin terpengaruh oleh provokasi yang dilakukan orang-orang kafir guna menanamkan keraguan ke dalam jiwa kaum muslimin hingga sampai menyesatkan mereka, karena mereka segera bertanya atas apa-apa yang mereka ragukan dari penyataan orang kafir itu yang berkaitan dengan amal di dalam Islam.
Dengan demikian, memiliki semangat bertanya merupakan sesuatu yang amat penting bagi kaum muslimin, dengan bertanya apa yang belum diketahui menjadi mudah diketahui, apa yang belum jelas menjadi jelas dan apa yang diragukan menjadi tidak perlu diragukan lagi, bahkan dengan bertanya kita pula bisa mendapatkan jawaban atas penjelasan yang jauh lebih luas dari apa yang kita perkirakan. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang selalu ingin menyesuaikan diri dengan segala ketentuan Allah Swt sehingga untuk menghindari terjadinya penyimpangan atau mengambil kesimpulan sendiri secara salah pertanyaan diajukan untuk mendapatkan petunjuk jalan yang benar.
Salah satu dari sekian banyak ayat yang turun dengan sebab adanya pertanyaan dari sahabat adalah firman Allah yang artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS 2:186).
Ayat tersebut turun karena ada sahabat yang bertanya tentang Allah itu jauh atau dekat. Rasulullah Saw balik bertanya: "Mengapa engkau bertanya demikian?”. Sahabat menjawab: "Ya Rasul, kalau jawaban engkau bahwa Allah itu jauh, saya akan berdo'a kepada-Nya dengan berteriak dan suara keras, tapi bila jawaban engkau bahwa Allah itu dekat, saya akan berdo'a dengan suara yang datar atau rendah”. Maka turunlah ayat itu untuk menegaskan bahwa Allah itu pada hakikatnya dekat dengan manusia.
Bentuk-bentuk pertanyaan dari para sahabat tidak hanya menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-, tapi juga terungkapnya hadits dari Rasulullah Saw yang di dalam ilmu hadits disebut dengan asbabul wurud. Pertanyaan dari para sahabat membuat Rasulullah Saw memberikan jawaban-jawaban yang sangat berharga, tidak hanya bagi para sahabat pada masa itu, tapi juga kita semua pada masa sekarang. Diantara contoh hadits yang terkait dengan pertanyaan sahabat adalah yang artinya: "Seorang Arab Badui bertanya: "Kapankah tiba hari kiamat?'. Nabi menjawab: "Apabila amanah telah diabaikan, maka tunggulah kiamat itu”. Orang itu bertanya lagi: "Bagaimanakah disia-siakannya amanah itu?”. Nabi Saw menjawab: "Apabila suatu perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat”. (HR. Bukhari).
METODE DIALOG
Dari ayat dan hadits di atas serta dalil-dalil lain yang tidak mungkin ditulis semua dalam kolom yang terbatas ini, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga betapa para sahabat merupakan orang-orang yang suka bertanya dan Rasulullah Saw juga senang dengan pertanyaan para sahabat, ini berarti terbuka kesempatan berdialog yang begitu luas pada masa Rasulullah Saw, bahkan dialog itu memang menjadi salah satu metode dalam da'wah dan pendidikan. Sebagai pemimpin, Rasulullah Saw mengembangkan dialog sehingga dari sini Rasulullah Saw juga mendapatkan masukan-masukan atau ide-ide cemerlang yang sedemikian berharga dalam mensukseskan perjuangan. Salman Al Farisi, ketika mendengar penjelasan Rasulullah Saw bahwa strategi perang yang akan dilakukan adalah bertahan dengan menunggu serangan musuh untuk selanjutnya dihalau, maka beliau bertanya kepada Rasulullah: "Apakah strategi ini memang berdasar wahyu atau gagasan engkau secara pribadi?”. Rasul menjawab: "Ini bukan berdasar wahyu”. Maka Salman mengusulkan agar tidak sekedar menunggu serangan, tapi harus membuat perangkap berupa parit dan usul inipun disepakati sehingga digalilah parit sebagai perangkap yang membentengi kaum muslimin, maka perang inipun disebut dengan perang khandaq (parit).
Dalam mendidik anggota keluarga, menciptakan suasana yang dialogis merupakan sesuatu yang amat penting sehingga kesadaran melaksanakan sesuatu yang baik dan benar tumbuh dari dalam jiwa masing-masing anggota keluarga, bahkan kita bisa mengetahui tidak hanya kesadaran yang tinggi, tapi ada nilai plus yang sama sekali tidak kita duga, inilah yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim As ketika berdialog dengan anaknya, Ismail As dalam menyampaikan perintah Allah Swt untuk menyembelih sang anak kesayangan itu. Ismail ternyata bukan hanya mempersilahkan bapaknya untuk melaksanakan perintah Allah, tapi nilai plus yang ditunjukkannya adalah bahwa kebaikan yang dilakukannya ini belumlah seberapa dibandingkan kebaikan generasi terdahulu, dalam hal ini adalah kesabaran, peristiwa yang mengagumkan ini difirmankan oleh Allah yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Ia menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS 37:102).
Dari penjelasan di atas, menjadi semakin jelas bagi kita betapa bertanya dan berdialog itu menjadi amat penting. Untuk memperbaiki diri kita masing-masing kita perlu memulai dengan bertanya dan berdialog kepada diri kita sendiri, inilah yang disebut dengan muhasabah (introspeksi diri). Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri kita antara lain: darimana saya berasal, untuk apa saya hidup, kemana saya akan kembali, apa saja yang sudah saya lakukan, apakah lebih banyak keshalehan daripada kesalahan yang saya tunjukkan, apa yang semestinya saya lakukan, bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan dan seterusnya.
Akhirnya, menjadi keharusan bagi kita untuk mengembangkan suasana yang dialogis dan amat penting bagi kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanyaan dalam upaya meningkatkan kualitas perjalanan hidup yang singkat ini.
Oleh :
Drs. H. Ahmad Yani
(QS 2:186)
Sebagai muslim, kita sangat dituntut untuk mengetahui dan memahami banyak persoalan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ajaran Islam yang kita pahami, insya Allah semakin banyak pula yang bisa kita amalkan, karena mengamalkan ajaran Islam itu harus didahului dengan pemahaman, sementara semakin sedikit yang kita pahami dari ajaran Islam, makin sedikit pula yang bisa kita amalkan, apalagi belum tentu semua yang kita pahami dari ajaran Islam secara otomatis bisa kita amalkan dalam kehidupan ini.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui dan memahami suatu persoalan, termasuk di dalamnya ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan bertanya. Karena itu bertanya menjadi sesuatu yang amat penting. Bahkan pribahasa kita menyebutkan: Malu bertanya, sesat di jalan.
Untuk mengetahui kadar pengetahuan seseorang, kedewasaan pribadinya, bahkan pengalaman hidupnya bisa kita ketahui dari bagaimana seseorang itu mengajukan pertanyaan. Begitu pula halnya dengan ajaran Islam. Bobot pertanyaan, kedalaman jiwa dalam berislam hingga apa sebenarnya yang dikehendakinya bisa terlihat dari pertanyaan para sahabat tentang berbagai persoalan kepada Rasulullah Saw dan ini erat kaitannya dengan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-. Ada banyak faktor yang menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat, faktor-faktor inilah yang disebut dengan asbaabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Al-. Salah satu sebab dari turunnya ayat atau surat di dalam Al- adalah adanya pertanyaan dari para sahabat tentang berbagai persoalan, karena itu ada banyak ayat yang dimulai dengan yasaluunaka (mereka bertanya kepadamu) atau wa idza sa'alaka (apabila kamu ditanya).
DIBALIK PERTANYAAN.
Ketika menafsirkan ayat-ayat yang dimulai dengan kalimat-kalimat pertanyaan, Sayyid Qutub dalam kitab tafsirnya Fii Dzilalil menyebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan banyak hal. Pertama, sifat keterbukaan wahyu, perkembangan gambaran kehidupan dan hubungan-hubungannya serta munculnya persoalan-persoalan baru dalam masyarakat. Kedua, bangkitnya perasaan keagamaan, pengaruh dan dominasi aqidah terhadap jiwa kaum sehingga mereka tidak mau melakukan sesuatu kecuali setelah mendapatkan kemantapan dari pandangan peraturan dalam aqidahnya. Ketiga, tidak mudahnya kaum muslimin terpengaruh oleh provokasi yang dilakukan orang-orang kafir guna menanamkan keraguan ke dalam jiwa kaum muslimin hingga sampai menyesatkan mereka, karena mereka segera bertanya atas apa-apa yang mereka ragukan dari penyataan orang kafir itu yang berkaitan dengan amal di dalam Islam.
Dengan demikian, memiliki semangat bertanya merupakan sesuatu yang amat penting bagi kaum muslimin, dengan bertanya apa yang belum diketahui menjadi mudah diketahui, apa yang belum jelas menjadi jelas dan apa yang diragukan menjadi tidak perlu diragukan lagi, bahkan dengan bertanya kita pula bisa mendapatkan jawaban atas penjelasan yang jauh lebih luas dari apa yang kita perkirakan. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang selalu ingin menyesuaikan diri dengan segala ketentuan Allah Swt sehingga untuk menghindari terjadinya penyimpangan atau mengambil kesimpulan sendiri secara salah pertanyaan diajukan untuk mendapatkan petunjuk jalan yang benar.
Salah satu dari sekian banyak ayat yang turun dengan sebab adanya pertanyaan dari sahabat adalah firman Allah yang artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS 2:186).
Ayat tersebut turun karena ada sahabat yang bertanya tentang Allah itu jauh atau dekat. Rasulullah Saw balik bertanya: "Mengapa engkau bertanya demikian?”. Sahabat menjawab: "Ya Rasul, kalau jawaban engkau bahwa Allah itu jauh, saya akan berdo'a kepada-Nya dengan berteriak dan suara keras, tapi bila jawaban engkau bahwa Allah itu dekat, saya akan berdo'a dengan suara yang datar atau rendah”. Maka turunlah ayat itu untuk menegaskan bahwa Allah itu pada hakikatnya dekat dengan manusia.
Bentuk-bentuk pertanyaan dari para sahabat tidak hanya menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-, tapi juga terungkapnya hadits dari Rasulullah Saw yang di dalam ilmu hadits disebut dengan asbabul wurud. Pertanyaan dari para sahabat membuat Rasulullah Saw memberikan jawaban-jawaban yang sangat berharga, tidak hanya bagi para sahabat pada masa itu, tapi juga kita semua pada masa sekarang. Diantara contoh hadits yang terkait dengan pertanyaan sahabat adalah yang artinya: "Seorang Arab Badui bertanya: "Kapankah tiba hari kiamat?'. Nabi menjawab: "Apabila amanah telah diabaikan, maka tunggulah kiamat itu”. Orang itu bertanya lagi: "Bagaimanakah disia-siakannya amanah itu?”. Nabi Saw menjawab: "Apabila suatu perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat”. (HR. Bukhari).
METODE DIALOG
Dari ayat dan hadits di atas serta dalil-dalil lain yang tidak mungkin ditulis semua dalam kolom yang terbatas ini, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga betapa para sahabat merupakan orang-orang yang suka bertanya dan Rasulullah Saw juga senang dengan pertanyaan para sahabat, ini berarti terbuka kesempatan berdialog yang begitu luas pada masa Rasulullah Saw, bahkan dialog itu memang menjadi salah satu metode dalam da'wah dan pendidikan. Sebagai pemimpin, Rasulullah Saw mengembangkan dialog sehingga dari sini Rasulullah Saw juga mendapatkan masukan-masukan atau ide-ide cemerlang yang sedemikian berharga dalam mensukseskan perjuangan. Salman Al Farisi, ketika mendengar penjelasan Rasulullah Saw bahwa strategi perang yang akan dilakukan adalah bertahan dengan menunggu serangan musuh untuk selanjutnya dihalau, maka beliau bertanya kepada Rasulullah: "Apakah strategi ini memang berdasar wahyu atau gagasan engkau secara pribadi?”. Rasul menjawab: "Ini bukan berdasar wahyu”. Maka Salman mengusulkan agar tidak sekedar menunggu serangan, tapi harus membuat perangkap berupa parit dan usul inipun disepakati sehingga digalilah parit sebagai perangkap yang membentengi kaum muslimin, maka perang inipun disebut dengan perang khandaq (parit).
Dalam mendidik anggota keluarga, menciptakan suasana yang dialogis merupakan sesuatu yang amat penting sehingga kesadaran melaksanakan sesuatu yang baik dan benar tumbuh dari dalam jiwa masing-masing anggota keluarga, bahkan kita bisa mengetahui tidak hanya kesadaran yang tinggi, tapi ada nilai plus yang sama sekali tidak kita duga, inilah yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim As ketika berdialog dengan anaknya, Ismail As dalam menyampaikan perintah Allah Swt untuk menyembelih sang anak kesayangan itu. Ismail ternyata bukan hanya mempersilahkan bapaknya untuk melaksanakan perintah Allah, tapi nilai plus yang ditunjukkannya adalah bahwa kebaikan yang dilakukannya ini belumlah seberapa dibandingkan kebaikan generasi terdahulu, dalam hal ini adalah kesabaran, peristiwa yang mengagumkan ini difirmankan oleh Allah yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Ia menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS 37:102).
Dari penjelasan di atas, menjadi semakin jelas bagi kita betapa bertanya dan berdialog itu menjadi amat penting. Untuk memperbaiki diri kita masing-masing kita perlu memulai dengan bertanya dan berdialog kepada diri kita sendiri, inilah yang disebut dengan muhasabah (introspeksi diri). Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri kita antara lain: darimana saya berasal, untuk apa saya hidup, kemana saya akan kembali, apa saja yang sudah saya lakukan, apakah lebih banyak keshalehan daripada kesalahan yang saya tunjukkan, apa yang semestinya saya lakukan, bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan dan seterusnya.
Akhirnya, menjadi keharusan bagi kita untuk mengembangkan suasana yang dialogis dan amat penting bagi kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanyaan dalam upaya meningkatkan kualitas perjalanan hidup yang singkat ini.
Oleh :
Drs. H. Ahmad Yani
Mensucikan Diri
Mensucikan Diri Bersuci adalah membersikan diri, Pakaian dan tempat dari segala hadas dan najis. Untuk bersuci dari hadas haruslah melakukan Wudhu, Mandi wajib atau Tayammum. Sedangkan agar suci dari najis haruslah menghilangkan kotoran yang ada di badan, pakaian dan tempat yang bersangkutan.Perintah bersuci ini tersurat pada bagian akhir ayat 222 dari surat Al-Baqarah yang artinya :"sesungguhnya Allah SWT menyukai orang - orang yang bertaubat dan orang - orang yang mensucikan diri.".Air yang dapat dipakai bersuci adalah air bersih dari laut atau air yang keluar dari bumi dan belum dipakai, yaitu air sumur, air sungai, air telaga, air hujan, air embun dan air salju. Ditinjau dari hukumnya, air dibagi menjadi empat :1. Air Mutlak, yaitu air suci yang dapat dipakai mensucikan, karena belum berubah sifat (warna, rasa dan bau) nya. 2. Air Musyammas, yaitu air suci yang dapat dipakai mensucikan, namun makruh digunakan. Misalnya air bertempat dilogam yang bukan emas, karena terkena panas matahari. 3. Air Musta'mal, yaitu air suci tetapi tidak dapat dipakai untuk mensucikan karena sudah dipakai untuk bersuci, meskipun air tersebut tidak berubah warna, rasa dan baunya 4. Air Mutanajis, yaitu air yang terkena najis, dan jumlahnya kurang dari dua kullah (216 liter). Karenanya air tersebut tidak suci, dan tidak dapat dipakai mensucikan. Akan tetapi jika lebih dari dua kullah serta tidak berubah warna, rasa dan baunya, maka bisa digunakan untuk bersuci. Ada satu macam air lagi yang suci dan dapat digunakan untuk mensucikan, namun haram dipakai yaitu air yang diperoleh dengan cara ghasab (yakni mengambil tanpa ijin pemiliknya atau mencuri).A. Hadast Hadas menurut kamus Istilah Agama karya Drs. Shodiq SE adalah suatu keadaan tidak suci yang tidak dapat dilihat, tetapi wajib disucikan untuk sahnya ibadah : Hadas dibagi dua yaitu :1. Hadas kecil. Penyebabnya antara lain keluar sesuatu dari dubur atau qubul, menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya dan tidur nyeyak dalam keadan tidak tetap. Cara membersihkan hadis ini ialah berwudhu. 2. Hadas besar/Jenabat/junub. Penyebanya antara lain : keluar air mani, bersetubuh, wanita habis melahirkan dan lain sebagainya. Cara mensucikan hadas besar ini adalah mandi wajib. B. Najis Najis adalah suatu benda kotor menurut syara' (hukum agama). Benda - benda najis meliputi :1. Darah 2. Nanah 3. Bangkai, kecuali bangkai manusia, ikan laut, dan belalang 4. Anjing dan babi 5. Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul 6. Minuman keras, seperti arak dan sebagainya 7. Bagian anggota binatang yang terpisah karena dipotong dan sebagainya sewaktu masih hidup. Najis menurut tingkatannya dibagi tiga yaitu : 1. Najis Mukhaffafah (ringan) adalah air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun, dan belum makan sesuatu kecuali air susu ibunya. Cara menghilangkannya cukup diperciki air pada tempat yang terkena najis tersebut. 2. Najis Mutawashitha (Sedang) adalah segala sesuatu yang keluar dari dubur/qubul manusia atau binatang, barang cair yang memabukkan, dan bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan laut dan belalang) serta susu, tulang dan bulu dari hewan yang haram dimakan, najis dibagi dua yaitu : Najis 'ainiyah yaitu najis yang berwujud (tampak dan dapat dilihat), misalnya kotoran manusia atau binatang. yang kedua Najis hukmiyah yaitu najis yang tidak berwujud (tidak tampak dan tidak terlihat), seperti bekas air kencing dan arak yang sudah mengering. Cara membersihkan Najis Muthawashithah cukup dibasuh tiga kali agar sifat-sifat najis (yakni warna, rasa dan bau) nya hilang. 3. Najis Mughalladhah (Berat) adalah najis anjing dan babi. Cara menghilangkannya harus dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satu diantaranya dengan air yang bercampur tanah. Selain tiga macam najis diatas, masih terdapat satu najis lagi yaitu : Ma'fu (Najis yang dima'afkan) antara lain Nanah atau darah yang cuma sedikit, debu atau air dari lorong-lorong yang memercik sedikit dan sulit dihindarkan.C. Istinja' Bersuci setelah buang air kecil atau air besar dinamakan istinja'. Dalam hal ini boleh memakai air atau dengan tiga buah batu. Tiga buah batu yang dimaksud, bisa berupa tiga buah batu atau satu batu yang memiliki tiga buah sisi (segi tiga). Dan yang dimaksud batu adalah benda padat yang kesat dan suci. Benda licin seperti kaca tidak sah dipakai untuk Istinja'. Hukum istinja' adalah wajib. Bagi yang tidak melakukannya maka berdosa. hal itu disandarkan pada sebuah hadist. Ketika Rasulullah melewati dua kubur, bersabda, "Dua orang yang ada dalam kubur ini disiksa. Yang seorang disiksa karena mengau-adu orang, dan yang seorang lagi karena tidak bersuci dari kencingnya." (sepakat ahli hadis).D. Wudhu Wudhu adalah salah satu cara bersuci dari hadas kecil sebelum mengerjakan ibadah shalat atau membaca Al-Qur'an. Perintah wajib wudhu ini memang turun bersamaan dengan perintah wajib shalat. Firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu, kedua tanganmu sampai siku dan sapulah kepalamu serta basuhlah kedua kakimu sampai mata kaki."(Q.S. Al-Maidah : 6). Sabda rasulullah saw. "Allah SWT tidak akan menerima shalat seseorang yang berhadas sehingga ia berwudhu." (H.R. Abu Daud).Syarat Wudhu ada 5 (lima)1. Islam 2. Sudah Baliqh 3. Tidak berhadas besar 4. Memakai air yang mutlak (suci dan dapat dipakai mensucikan) 5. Tidak ada yang menghalangi sampainya kekulit Rukun Wudhu ada 6 (Enam)1. Niat Kemudian dilanjutkan dengan bacaan : "Nawaitul wudluua liraf'il hadatsil ashghari fardlallillaahi ta'aalaa" artinya : "aku niat berwudlu' untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah"2. Membasuh muka sebatas dari tempat tumbuh rambut dikepala sampai kedua tulang dagu dan dari batas telingga kanan sampai batas telinga kiri. 3. Membasuh kedua tanggan sampai kedua mata siku. 4. Mengusap sebagian kepala dengan air. 5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. 6. Tertib (berurutan). Sunnah Wudhu ada 12 (dua belas)1. Diawali membaca Basmallah dalam hati. 2. Membasuh telapak tangan sampai pergelangan. 3. Berkumur 4. Menggosok gigi (bersiwak) 5. Membersihkan lobang hidung dengan air 6. Mengusap seluruh kepala dengan air 7. Mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam 8. Menselai-selai jemari tangan dan jemari kaki 9. tidak berbicara 10. mendahulukan membasuh anggota badan bagian kanan 11. Membasuh anggota wudhu sampai tiga kali 12. membaca doa sesudah berwudhu. Tatacara Mengambil Wudhu 1. Membasuh kedua telapak tangan sampai kedua buku pergelangan dengan membaca "Bismillaa hirrachmanirrachiim" 2. Berkumur tiga kali, serta mengosok gigi
3. Membersihkan lobang hidung dengan air sebanyak tiga kali. 4. Membasuh muka tiga kali, serta niat didalam hati dan bantulah dengan ucapan : "Nawaitul wudluua liraf'il hadatsil ashghari fardlallillaahi ta'aalaa" artinya : "aku niat berwudlu' untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah"
5. Membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali kemudian tangan kiri sebanyak tiga kali 6. Menyapu sebagian dari kepala atau keseluruhannya yakni dari muka sampai belakang sebanyak tiga kali.
7. Menyapu telinga kanan baik luar maupun dalam sebanyak tiga kali kemudian telinga kiri 8. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali kemudian kaki kiri.
Setelah selesai berwudlu' kita disunnatkan membaca do'a yang berbunyi sebagai berikut : "Asshadu allaa ilaaha illallaahu wachdahuu laa syariika lahuu wa asyhadu anna muchammadan 'abduhuu warasuuluh. Allahummaj'alnii minattawwaabiina waj'alni min "Artinya :"Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan pesuruhNya. Wahai Allah jadikanlah saya termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk orang-orang yang suci" serta jadikanlah saya termasuk golongan hamba-hambaMu yang shalih"Perkara yang dapat membatalkan Wudhu ada 5 (lima)1. Keluar sesuatu dari dua pintu (kubul dan dubur) atau salah satu dari keduanya baik berupa kotoran, air kencing , angin, air mani atau yang lainnya. 2. Hilangnya akal, baik gila, pingsan ataupun mabuk. 3. Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan kecuali mereka itu masih muhrim. 4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan bathin telapak tangan, baik milik sendiri maupun milik orang lain. Baik dewasa maupun anak-anak. 5. Tidur, kecuali apabila tidurnya dengan duduk dan masih dalam keadaan semula (tidak berubah kedudukannya). E. Tayammum Apabila kita didalam perjalanan atau kita mendapatkan air ataupun sedang sakit yang menurut dokter tidak boleh menggunakan air, maka sebagai pangganti wudlu' atau mandi kita boleh tayamum (yaitu menyapukan debu yang suci kemuka dan dua tangan sampai siku-siku disertai dengan niat). Tayamum baru dianggap sah apabila syarat-syarat dibawah ini terpenuhi.Syarat-syarat tayammum1. Sudah masuk waktu shalat 2. Tidak ada air dan sudah diusahakan mencarinya (syarat ini tidak berlaku untuk orang sakit) 3. Sakit, sehingga jika memakai air takut penyakitnya bertambah parah. 4. Sedang dalam perjalanan. Firman Allah SWT : "... Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau sehabis buang air atau menyentuh wanita lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah/debu yang baik (bersih dan suci). Sapulah mukamu dan tangganmu dengan tanah itu."(Q.S. Al-Maidah : 6) 5. Memakai Tanah suci dan berdebu. Rukun Tayammum ada 4 (empat)1. Niat 2. Menyapu muka dengan tanah 3. Menyapu kedua tangan sampai siku dengan tanah 4. Tertib atau berurutan Sunnah Tayammum ada 2 (dua)1. Mengawali dengan bacaan Basmallah dalam hati. 2. Mendahulukan anggota badan sebelah kanan. Hal-hal yang membatalkan tayammum sama dengan yang membatalkan wudhu.F. Mandi wajib atau Sunnah Mandi wajib adalah keharusan mandi sebagai suatu cara untuk bersuci bagi seseorang yang menanggung hadas besar atau sedang junub. Firman Allah SWT. "Apabila kamu junub, maka mandilah / bersuci" (Q.S. Al-Maidah : 6)Perbuatan yang mengharuskan kita mandi1. Bersetubuh, baik mengeluarkan mani atau tidak. 2. Keluar air mani baik disengaja atau tidak. 3. Meninggal dunia harus dimandikan, kecuali mati syahid 4. Sehabis masa haid / Menstruasi bagi wanita 5. Nifas, yaitu mengeluarkan darah setelah melahirkan. Rukun Mandi ada 3 (tiga)1. Niat 2. Menghilangkan kotoran dan najis pada badan 3. Membasuh seluruh tubuh. Sunnah Mandi ada 5 (lima)1. Diawali membaca basmallah dalam hati 2. mengosok seluruh tubuh dengan tangan 3. Mendahulukan bagian yang kanan dari yang kiri 4. Berwudhu sebelum mandi 5. Tertib atau berturut-turut. Selain mandi wajib, ada juga mandi-mandi sunnah, yaitu :1. Mandi bagi orang yang akan melaksanakan shalat Jum'at 2. Mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha 3. Mandi bagi orang yang baru sembuh dari gila 4. Mandi menjelang Ihram haji dan Umrah 5. Mandi sehabis memandikan mayat 6. Mandi bagi orang kafir yang baru masuk Islam.
3. Membersihkan lobang hidung dengan air sebanyak tiga kali. 4. Membasuh muka tiga kali, serta niat didalam hati dan bantulah dengan ucapan : "Nawaitul wudluua liraf'il hadatsil ashghari fardlallillaahi ta'aalaa" artinya : "aku niat berwudlu' untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah"
5. Membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali kemudian tangan kiri sebanyak tiga kali 6. Menyapu sebagian dari kepala atau keseluruhannya yakni dari muka sampai belakang sebanyak tiga kali.
7. Menyapu telinga kanan baik luar maupun dalam sebanyak tiga kali kemudian telinga kiri 8. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali kemudian kaki kiri.
Setelah selesai berwudlu' kita disunnatkan membaca do'a yang berbunyi sebagai berikut : "Asshadu allaa ilaaha illallaahu wachdahuu laa syariika lahuu wa asyhadu anna muchammadan 'abduhuu warasuuluh. Allahummaj'alnii minattawwaabiina waj'alni min "Artinya :"Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan pesuruhNya. Wahai Allah jadikanlah saya termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk orang-orang yang suci" serta jadikanlah saya termasuk golongan hamba-hambaMu yang shalih"Perkara yang dapat membatalkan Wudhu ada 5 (lima)1. Keluar sesuatu dari dua pintu (kubul dan dubur) atau salah satu dari keduanya baik berupa kotoran, air kencing , angin, air mani atau yang lainnya. 2. Hilangnya akal, baik gila, pingsan ataupun mabuk. 3. Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan kecuali mereka itu masih muhrim. 4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan bathin telapak tangan, baik milik sendiri maupun milik orang lain. Baik dewasa maupun anak-anak. 5. Tidur, kecuali apabila tidurnya dengan duduk dan masih dalam keadaan semula (tidak berubah kedudukannya). E. Tayammum Apabila kita didalam perjalanan atau kita mendapatkan air ataupun sedang sakit yang menurut dokter tidak boleh menggunakan air, maka sebagai pangganti wudlu' atau mandi kita boleh tayamum (yaitu menyapukan debu yang suci kemuka dan dua tangan sampai siku-siku disertai dengan niat). Tayamum baru dianggap sah apabila syarat-syarat dibawah ini terpenuhi.Syarat-syarat tayammum1. Sudah masuk waktu shalat 2. Tidak ada air dan sudah diusahakan mencarinya (syarat ini tidak berlaku untuk orang sakit) 3. Sakit, sehingga jika memakai air takut penyakitnya bertambah parah. 4. Sedang dalam perjalanan. Firman Allah SWT : "... Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau sehabis buang air atau menyentuh wanita lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah/debu yang baik (bersih dan suci). Sapulah mukamu dan tangganmu dengan tanah itu."(Q.S. Al-Maidah : 6) 5. Memakai Tanah suci dan berdebu. Rukun Tayammum ada 4 (empat)1. Niat 2. Menyapu muka dengan tanah 3. Menyapu kedua tangan sampai siku dengan tanah 4. Tertib atau berurutan Sunnah Tayammum ada 2 (dua)1. Mengawali dengan bacaan Basmallah dalam hati. 2. Mendahulukan anggota badan sebelah kanan. Hal-hal yang membatalkan tayammum sama dengan yang membatalkan wudhu.F. Mandi wajib atau Sunnah Mandi wajib adalah keharusan mandi sebagai suatu cara untuk bersuci bagi seseorang yang menanggung hadas besar atau sedang junub. Firman Allah SWT. "Apabila kamu junub, maka mandilah / bersuci" (Q.S. Al-Maidah : 6)Perbuatan yang mengharuskan kita mandi1. Bersetubuh, baik mengeluarkan mani atau tidak. 2. Keluar air mani baik disengaja atau tidak. 3. Meninggal dunia harus dimandikan, kecuali mati syahid 4. Sehabis masa haid / Menstruasi bagi wanita 5. Nifas, yaitu mengeluarkan darah setelah melahirkan. Rukun Mandi ada 3 (tiga)1. Niat 2. Menghilangkan kotoran dan najis pada badan 3. Membasuh seluruh tubuh. Sunnah Mandi ada 5 (lima)1. Diawali membaca basmallah dalam hati 2. mengosok seluruh tubuh dengan tangan 3. Mendahulukan bagian yang kanan dari yang kiri 4. Berwudhu sebelum mandi 5. Tertib atau berturut-turut. Selain mandi wajib, ada juga mandi-mandi sunnah, yaitu :1. Mandi bagi orang yang akan melaksanakan shalat Jum'at 2. Mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha 3. Mandi bagi orang yang baru sembuh dari gila 4. Mandi menjelang Ihram haji dan Umrah 5. Mandi sehabis memandikan mayat 6. Mandi bagi orang kafir yang baru masuk Islam.
Kamis, 11 September 2008
MEREVIE PEMAKNAAN AYAT-AYAT SHAUM
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 183)
Merupakan satu rahmat Allah swt. bahwa Ayatus Shiyam, yaitu ayat-ayat yang berbicara tentang puasa dalam berbagai pembahasannya dapat dengan mudah ditemukan karena berada pada satu surah secara berurutan di dalam surah Al-Baqarah dari ayat 183 hingga ayat 187. Dan ayat di atas merupakan ayat pertama yang menjadi landasan qath’i –pasti- atas kewajiban puasa bagi seluruh umat Islam.
Dari kelima ayat yang berada dalam susunan ayatus shiyam, ternyata terdapat satu ayat yang berbeda dari segi pembahasannya. Ayat ini justru berbicara tentang kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al-Baqarah: 186). Meskipun demikian, masih tetap dapat ditemukan korelasi ayat ini dengan keempat ayatus shiyam.
yang mulia dan ia diberi kesempatan untuk memilih diantara bidadari yang ia inginkan”.
Secara korelatif juga, ayat yang mendampingi sesudah ayatus shiyam ternyata berbicara dalam konteks menahan diri, terutama dari harta orang lain yang bukan miliknya,
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188).
Demikian juga dengan ayat yang mendampingi sebelumnya yaitu ayat 181-182 yang berbicara tentang harta pusaka yang dikhawatirkan terjadi penyelewengan padanya.
Makna lain yang cukup fenomenal yang bisa disaksikan sepanjang bulan puasa adalah makna ukhawi, dalam arti kebersamaan dan solidaritas. Dr. Sayyid Nuh dalam bukunya, Al-Fardhiyah wal-Jamaa’iyah fil-Insan menyatakan:
“Ibadah puasa adalah bentuk ibadah kebersamaan umat Islam, sekaligus persamaan dalam menahan rasa lapar dan dahaga pada waktu tertentu.”.
Dalam skala keluarga, pembiasaan bangun malam yang diteruskan dengan sahur bersama seluruh anggota keluarga di bulan Ramadhan harus menjadi agenda harian dari makna ukhawi yang berkesinambungan. Ditambah dengan momen silaturahim yang banyak berlangsung sepanjang bulan Ramadhan dalam bentuk buka bersama misalnya merupakan nilai yang luhur dari pemaknaan Ramadhan.
Rasulullah saw. sendiri merupakan contoh ideal sepanjang zaman:
“Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana beliau selalu ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al-Qur’an. Sungguh bila Rasulullah bertemu dengan Jibril, beliau lebih pemurah lagi melebihi hembusan angin kencang.” (H.R. Muttafaq Alaih)
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa beberapa sahabat pernah mengadu kepada Nabi saw.,
“Wahai Rasulullah, kami makan tapi tidak kenyang?” Beliau berkata, “Semoga ini karena kalian makan sendirian”. Mereka berkata, “ya.” Rasulullah bersabda, “Berkumpulah pada makanan kalian (makan bersama) dan sebutlah nama Allah, semoga Dia akan memberi berkah kepada kalian.” (Muttafaq Alaih).
Bahkan belajar suatu ilmu dan mengajarkannya tidak ada berkah padanya kecuali dilakukan dengan bersama. Nabi saw. Bersabda:
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah ta’ala dengan membaca Kitabullah dan mempelajarinya satu sama lain antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, mereka diselimuti rahmat dan malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)
Demikian, Islam memandang kebersamaan umat Islam merupakan suatu tuntutan yang sangat urgen. Karena manusia jika tidak bersama dalam kebenaran, maka mereka akan bersama dalam kebatilan. Begitu pula, jika mereka tidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, mereka pasti akan bersaing dalam mendapatkan perhiasan dunia. Berulang kali perintah Allah swt. tidak ditujukan secara redaksional kepada individu (perorangan), baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Tetapi ditujukan kepada seluruh orang yang beriman, dengan bentuk pengajaran dan petunjuk. Termasuk dalam perintah puasa, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman”.
Mudah-mudahan semakin banyak pemaknaan yang kita lakukan terhadap Ayatus shiyam, maka akan semakin dapat memperkuat motivasi kita untuk melaksanakan seluruh paket Ramadhan dengan baik dan berkesinambungan sehingga kita termasuk di antara golongan yang mampu meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah swt. Amin. Allahu a’lam
dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 183)
Merupakan satu rahmat Allah swt. bahwa Ayatus Shiyam, yaitu ayat-ayat yang berbicara tentang puasa dalam berbagai pembahasannya dapat dengan mudah ditemukan karena berada pada satu surah secara berurutan di dalam surah Al-Baqarah dari ayat 183 hingga ayat 187. Dan ayat di atas merupakan ayat pertama yang menjadi landasan qath’i –pasti- atas kewajiban puasa bagi seluruh umat Islam.
Dari kelima ayat yang berada dalam susunan ayatus shiyam, ternyata terdapat satu ayat yang berbeda dari segi pembahasannya. Ayat ini justru berbicara tentang kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al-Baqarah: 186). Meskipun demikian, masih tetap dapat ditemukan korelasi ayat ini dengan keempat ayatus shiyam.
yang mulia dan ia diberi kesempatan untuk memilih diantara bidadari yang ia inginkan”.
Secara korelatif juga, ayat yang mendampingi sesudah ayatus shiyam ternyata berbicara dalam konteks menahan diri, terutama dari harta orang lain yang bukan miliknya,
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188).
Demikian juga dengan ayat yang mendampingi sebelumnya yaitu ayat 181-182 yang berbicara tentang harta pusaka yang dikhawatirkan terjadi penyelewengan padanya.
Makna lain yang cukup fenomenal yang bisa disaksikan sepanjang bulan puasa adalah makna ukhawi, dalam arti kebersamaan dan solidaritas. Dr. Sayyid Nuh dalam bukunya, Al-Fardhiyah wal-Jamaa’iyah fil-Insan menyatakan:
“Ibadah puasa adalah bentuk ibadah kebersamaan umat Islam, sekaligus persamaan dalam menahan rasa lapar dan dahaga pada waktu tertentu.”.
Dalam skala keluarga, pembiasaan bangun malam yang diteruskan dengan sahur bersama seluruh anggota keluarga di bulan Ramadhan harus menjadi agenda harian dari makna ukhawi yang berkesinambungan. Ditambah dengan momen silaturahim yang banyak berlangsung sepanjang bulan Ramadhan dalam bentuk buka bersama misalnya merupakan nilai yang luhur dari pemaknaan Ramadhan.
Rasulullah saw. sendiri merupakan contoh ideal sepanjang zaman:
“Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana beliau selalu ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al-Qur’an. Sungguh bila Rasulullah bertemu dengan Jibril, beliau lebih pemurah lagi melebihi hembusan angin kencang.” (H.R. Muttafaq Alaih)
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa beberapa sahabat pernah mengadu kepada Nabi saw.,
“Wahai Rasulullah, kami makan tapi tidak kenyang?” Beliau berkata, “Semoga ini karena kalian makan sendirian”. Mereka berkata, “ya.” Rasulullah bersabda, “Berkumpulah pada makanan kalian (makan bersama) dan sebutlah nama Allah, semoga Dia akan memberi berkah kepada kalian.” (Muttafaq Alaih).
Bahkan belajar suatu ilmu dan mengajarkannya tidak ada berkah padanya kecuali dilakukan dengan bersama. Nabi saw. Bersabda:
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah ta’ala dengan membaca Kitabullah dan mempelajarinya satu sama lain antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, mereka diselimuti rahmat dan malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)
Demikian, Islam memandang kebersamaan umat Islam merupakan suatu tuntutan yang sangat urgen. Karena manusia jika tidak bersama dalam kebenaran, maka mereka akan bersama dalam kebatilan. Begitu pula, jika mereka tidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, mereka pasti akan bersaing dalam mendapatkan perhiasan dunia. Berulang kali perintah Allah swt. tidak ditujukan secara redaksional kepada individu (perorangan), baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Tetapi ditujukan kepada seluruh orang yang beriman, dengan bentuk pengajaran dan petunjuk. Termasuk dalam perintah puasa, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman”.
Mudah-mudahan semakin banyak pemaknaan yang kita lakukan terhadap Ayatus shiyam, maka akan semakin dapat memperkuat motivasi kita untuk melaksanakan seluruh paket Ramadhan dengan baik dan berkesinambungan sehingga kita termasuk di antara golongan yang mampu meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah swt. Amin. Allahu a’lam
MENUNAIKAN AMANAH KEPEMIMPINAN
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa’ : 58).
Ayat ini meskipun menggunakan redaksi yang umum “kepada kamu sekalian”, namun secara lebih khusus pembicaraan ayat ini ditujukan kepada para pemimpin dan penguasa seperti yang dipahami oleh Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam yang dinukil oleh Ibnu Katsir.
Pemahaman seperti ini sangat tepat, karena merekalah yang memiliki amanah yang besar untuk ditunaikan sehingga mereka diminta untuk menjaga amanah dan pemerintahan tersebut dengan benar dan adil. Jika amanah dan keadilan disia-siakan, maka umat manusia akan binasa dan negeri ini akan hancur.
Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).
Sayid Quthb dalam tafsir fi Dzilalil Qur’an menyimpulkan bahwa amanah yang dimaksud oleh ayat ini harus diawali dengan amanah yang paling besar yang tidak mampu diemban oleh langit, bumi dan gunung sebelumnya
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” QS. Al Ahzab: 72.
Karena dengan terlaksananya amanah kepemimpinan dengan baik, maka akan terealisir secara otomatis amanah-amanah yang lain, baik terkait dengan amanah kepada Allah swt maupun amanah yang berhubungan dengan sesama hamba dan dengan diri sendiri.
Perintah amanah inilah yang berlaku universal kepada siapapun tanpa melihat sifat dan keadaan orang tersebut.
Maimun bin Mahran mengatakan, “Tiga hal yang harus ditunaikan, baik kepada orang yang berbakti maupun kepada pelaku maksiat: amanah, janji dan silaturahim”.
Amanah kepemimpinan menjadi prioritas dari ayat di atas dilihat dari keterkaitan antara kalimat dalam ayatnya dengan menggunakan wau athaf. Bahwa Allah swt menyebutkan perintah “untuk menetapkan hukum diantara manusia dengan adil” setelah perintah menunaikan amanah. Padahal memutuskan hukum diantara manusia merupakan diantara tugas dan kewajiban seorang pemimpin
Ditambah lagi bahwa pada ayat selanjutnya, yaitu pada surah An-Nisa’ : 59, Allah swt menetapkan manhaj dan nilai yang harus dipegang dalam konteks kepemimpinan yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta para pemimpin yang telah ditunjuk atau dipilih dengan benar.
Allah swt menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah) jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”. QS. An Nisa’: 59.
Imam Ar-Razi memahami ayat di atas dengan melihat korelasi yang erat dengan ayat sebelumnya bahwa setelah Allah swt menggambarkan beberapa karakteristik orang-orang kafir dan ancaman azab untuk mereka, Allah swt kembali menyebutkan beberapa kewajiban dan tugas orang-orang beriman. Begitu juga setelah Allah swt menyebutkan pahala yang besar bagi amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang beriman, maka Allah swt menyebutkan bahwa amal sholeh yang terbesar adalah menunaikan amanah dan berlaku adil dalam memutuskan perkara diantara manusia tanpa terkecuali.
Inilah bentuk amal sholeh yang terbesar dan harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan proporsi dan tingkatan amanah yang diembannya. Bahkan dengan tegas Rasulullah saw menafikan iman dari orang yang tidak bisa menjaga amanah dengan baik, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa menunaikan amanah”. HR. Ahmad dan Al Baihaqi
Perihal pentingnya kepemimpinan dinyatakan tegas oleh Ibnu Taimiyah:
”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.
Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.
Dalam sejarah Islam yang layak dijadikan panutan, bahwa persoalan kepemimpinan merupakan persoalan yang pertama mendapat perhatian dari para sahabat Rasul setelah Rasulullah saw wafat, adalah memilih pemimpin pengganti Rasulullah saw. Bahkan mereka mendahulukan menyelesaikan persoalan ini dari pada mengubur jasad Rasulullah saw. Kemudian para sahabat sepakat membai’at Abu Bakar dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya
baik. Islam membenci kesemrawutan dan kekacauan dalam segala hal. Sampai dalam sholat, Rasulullah saw menyuruh untuk menyamakan dan meluruskan shaf dan mendahulukan orang yang lebih baik ilmu dan bacaannya untuk menjadi imam. Bahkan dalam perjalanan biasa, Rasulullah saw berpesan untuk mengangkat pemimpin diantara mereka yang melakukan perjalanan bersama.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.
Disinilah urgensi kepemimpinan dalam Islam. Kebaikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kebaikan roda kepemimpinan yang dijalankan di dalamnya. Islam menaruh perhatian yang besar dalam persoalan kepemimpinan. Karenanya ukuran kebaikan sebuah bangsa turut ditentukan dengan kualitas dan nilai kepemimpinan yang dianutnya. Rasulullah saw menyebutkan seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, “Umat ini masih akan tetap terjaga kebaikannya jika selalu jujur dalam ucapannya, adil dalam keputusan hukumnya dan saling berkasih sayang diantara mereka”. Allahu A’lam.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa’ : 58).
Ayat ini meskipun menggunakan redaksi yang umum “kepada kamu sekalian”, namun secara lebih khusus pembicaraan ayat ini ditujukan kepada para pemimpin dan penguasa seperti yang dipahami oleh Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam yang dinukil oleh Ibnu Katsir.
Pemahaman seperti ini sangat tepat, karena merekalah yang memiliki amanah yang besar untuk ditunaikan sehingga mereka diminta untuk menjaga amanah dan pemerintahan tersebut dengan benar dan adil. Jika amanah dan keadilan disia-siakan, maka umat manusia akan binasa dan negeri ini akan hancur.
Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).
Sayid Quthb dalam tafsir fi Dzilalil Qur’an menyimpulkan bahwa amanah yang dimaksud oleh ayat ini harus diawali dengan amanah yang paling besar yang tidak mampu diemban oleh langit, bumi dan gunung sebelumnya
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” QS. Al Ahzab: 72.
Karena dengan terlaksananya amanah kepemimpinan dengan baik, maka akan terealisir secara otomatis amanah-amanah yang lain, baik terkait dengan amanah kepada Allah swt maupun amanah yang berhubungan dengan sesama hamba dan dengan diri sendiri.
Perintah amanah inilah yang berlaku universal kepada siapapun tanpa melihat sifat dan keadaan orang tersebut.
Maimun bin Mahran mengatakan, “Tiga hal yang harus ditunaikan, baik kepada orang yang berbakti maupun kepada pelaku maksiat: amanah, janji dan silaturahim”.
Amanah kepemimpinan menjadi prioritas dari ayat di atas dilihat dari keterkaitan antara kalimat dalam ayatnya dengan menggunakan wau athaf. Bahwa Allah swt menyebutkan perintah “untuk menetapkan hukum diantara manusia dengan adil” setelah perintah menunaikan amanah. Padahal memutuskan hukum diantara manusia merupakan diantara tugas dan kewajiban seorang pemimpin
Ditambah lagi bahwa pada ayat selanjutnya, yaitu pada surah An-Nisa’ : 59, Allah swt menetapkan manhaj dan nilai yang harus dipegang dalam konteks kepemimpinan yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta para pemimpin yang telah ditunjuk atau dipilih dengan benar.
Allah swt menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah) jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”. QS. An Nisa’: 59.
Imam Ar-Razi memahami ayat di atas dengan melihat korelasi yang erat dengan ayat sebelumnya bahwa setelah Allah swt menggambarkan beberapa karakteristik orang-orang kafir dan ancaman azab untuk mereka, Allah swt kembali menyebutkan beberapa kewajiban dan tugas orang-orang beriman. Begitu juga setelah Allah swt menyebutkan pahala yang besar bagi amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang beriman, maka Allah swt menyebutkan bahwa amal sholeh yang terbesar adalah menunaikan amanah dan berlaku adil dalam memutuskan perkara diantara manusia tanpa terkecuali.
Inilah bentuk amal sholeh yang terbesar dan harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan proporsi dan tingkatan amanah yang diembannya. Bahkan dengan tegas Rasulullah saw menafikan iman dari orang yang tidak bisa menjaga amanah dengan baik, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa menunaikan amanah”. HR. Ahmad dan Al Baihaqi
Perihal pentingnya kepemimpinan dinyatakan tegas oleh Ibnu Taimiyah:
”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.
Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.
Dalam sejarah Islam yang layak dijadikan panutan, bahwa persoalan kepemimpinan merupakan persoalan yang pertama mendapat perhatian dari para sahabat Rasul setelah Rasulullah saw wafat, adalah memilih pemimpin pengganti Rasulullah saw. Bahkan mereka mendahulukan menyelesaikan persoalan ini dari pada mengubur jasad Rasulullah saw. Kemudian para sahabat sepakat membai’at Abu Bakar dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya
baik. Islam membenci kesemrawutan dan kekacauan dalam segala hal. Sampai dalam sholat, Rasulullah saw menyuruh untuk menyamakan dan meluruskan shaf dan mendahulukan orang yang lebih baik ilmu dan bacaannya untuk menjadi imam. Bahkan dalam perjalanan biasa, Rasulullah saw berpesan untuk mengangkat pemimpin diantara mereka yang melakukan perjalanan bersama.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.
Disinilah urgensi kepemimpinan dalam Islam. Kebaikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kebaikan roda kepemimpinan yang dijalankan di dalamnya. Islam menaruh perhatian yang besar dalam persoalan kepemimpinan. Karenanya ukuran kebaikan sebuah bangsa turut ditentukan dengan kualitas dan nilai kepemimpinan yang dianutnya. Rasulullah saw menyebutkan seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, “Umat ini masih akan tetap terjaga kebaikannya jika selalu jujur dalam ucapannya, adil dalam keputusan hukumnya dan saling berkasih sayang diantara mereka”. Allahu A’lam.
Rabu, 10 September 2008
Ajari Kami



Ajari kami lewat suaramu
Akan arti setiap ejaan kata-kata
Hingga terucap suara santun
Dan keberkahan senantiasa ada
Ajari kami lewat hatimu
Akan arti setiap nurani kalbuku
Hingga jiwa-jiwa menyatu
Dengan keharibaan Tuhanku
Ajari kami lewat nafasmu
Akan arti setiap desahan nafas
Hingga kulewati saat bahagia
Saat ruh melepas raga
Ajari kami lewat tanganmu
Akan arti setiap genggaman
Hingga dunia tak kan ada
Rasa benci dan permusuhan
Ajari kami lewat puisimu
Akan arti setiap tulisan kata
Hingga pena ini terkulai
Menulis bait-bait kebenaran
Ajari kami……………..mengenal Tuhan
Dan pentingnya berma’rifat kepada-Nya
Ajari kami……………..mengenal Tuhan
Dan cara-cara bersujud bermunajat
Ajari kami berucap Alif, ba, ta, tsa
Akan arti setiap bilangan kata
Hingga mulut senantiasa
Mengalunkan tartilul Qur’an
Ajari kami……
Ajari kami…..
Ajari Kami…..
Setiap langkah bermakna menuju Yang Maha Esa
Selamat Ulang Tahun untuk Kakakku Zulfa
Harits & Wildan
Tadabur surat Ali Imran 190-191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”(QS.3:190-191)
Salah satu cara mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan membaca dan merenungkan ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta. Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan alam, langit dan bumi. Langit yang melindungi dan bumi yang terhampar tempat manusia hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah SWT.Langit adalah yang di atas yang menaungi kita. Hanya Allah yang tahu berapa lapisnya, yang dikatakan kepada kita hanya tujuh. Menakjubkan pada siang hari dengan berbagai awan germawan, mengharukan malam harinya dengan berbagai bintang gemintang.Bumi adalah tempat kita berdiam, penuh dengan aneka keganjilan. Makin diselidiki makin mengandung rahasia ilmu yang belum terurai. Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib. Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup. Semua bergerak menurut aturan.Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang bernyawa. Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya. Musim pun silih berganti. Musim dingin, panas,gugur, dan semi. Demikian juga hujan dan panas. Semua ini menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah bagi orang yang berpikir. Bahwa tidaklah semuanya terjadi dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.Orang yang melihat dan memikirkan hal itu, akan meninjau menurut bakat pikirannya masing-masing. Apakah dia seorang ahli ilmu alam, ahli ilmu bintang, ahli ilmu tanaman, ahli ilmu pertambangan, seorang filosofis, ataupun penyair dan seniman. Semuanya akan terpesona oleh susunan tabir alam yang luar biasa. Terasa kecil diri di hadapan kebesaran alam, terasa kecil alam di hadapan kebesaran penciptanya. Akhirnya tak ada arti diri, tak ada arti alam, yang ada hanyalah Dia, Yang Maha Pencipta. Di akhir ayat 190, manusia yang mampu melihat alam sebagai tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya, Allah sebut sebagai Ulil Albab (orang-orang yang berpikir).Dalam ayat 191, diterangkan karakteristik Ulil Albab, yaitu selalu melakukan aktivitas dzikir dan fikir sebagai metode memahami alam, baik yang ghaib maupun yang nyata.Dzikir, secara bahasa berasal dari kata dzakara , tadzakkara, yang artinya menyebut, menjaga, mengingat-ingat. Secara istilah dzikir artinya tidak pernah melepaskan Allah dari ingatannya ketika beraktifitas. Baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Ketiga hal itu mewakili aktifitas manusia dalam hidupnya. Jadi,dzikir merupakan aktivitas yang harus selalu dilakukan dalam kehidupan. Dzikir dapat dilkukan dengan hati,lisan, maupun perbuatan. Dzikir dengan hati artinya kalbu manusia harus selalu bertaubat kepada Allah, disebabkan adanya cinta, takut, dan harap kepada-Nya yang berhimpun di hati (Qolbudz Dzakir). Dari sini tumbuh keimanan yang kokoh, kuat dan mengakar di hati. Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama Allah dengan lisan. Misalnya saat mendapatkan nikmat mengucapkan hamdalah. Ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan basmalah. Ketika takjub mengucapkan tasbih. Dzikir dengan perbuatan berarti memfungsikan seluruh anggota badan dalam kegiatan yang sesuai dengan aturan Allah.Fikir, secara bahasa adalah fakara, tafakkara yang artinya memikirkan, mengingatkan, teringat. Dalam hal ini berpikir berarti memikirkan proses kejadian alam semesta dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya sehingga mendapatkan manfaat daripadanya dan teringat atau mengingatkan kita kepada sang Pencipta alam, Allah SWT.Dengan dzikir manusia akan memahami secara jelas petunjuk ilahiyah yang tersirat maupun yang tersurat dalam al-Qur’an maupun as-sunnah sebagai minhajul hayah (pedoman hidup). Dengan fikir, manusia mampu menggali berbagai potensi yang terhampar dan terkandung pada alam semesta. Aktivitas dzikir dan fikir tersebut harus dilakukan secara seimbang dan sinergis (saling berkaitan dan mengisi). Sebab jika hanya melakukan aktivitas fikir, hidup manusia akan tenggelam dalam kesesatan. Jika hanya melakukan aktivitas dzikir, manusia akan terjerumus dalam hidup jumud (tidak berkembang, statis). Sedangkan, jika melakukan aktivitas dzikir dan fikir tetapi masing-masing terpisah, dikhawatirkan manusia akan menjadi sekuler.
Bagi Ulil Albab, kedua aktivitas itu akan berakhir pada beberapa kesimpulan:· Allah dengan segala kebesaran dan keagungan-Nya adalah pencipta alam semesta termasuk manusia.· Tiada yang sia-sia dalam penciptaan alam.Semua mengandung nilai-nilai dan manfaat.· Mensucikan Allah dengan bertasbih dan bertahmid memuji-Nya.· Menumbuhkan ketundukan dan rasa takut kepada Allah dan hari Akhir.
Salah satu cara mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan membaca dan merenungkan ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta. Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan alam, langit dan bumi. Langit yang melindungi dan bumi yang terhampar tempat manusia hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah SWT.Langit adalah yang di atas yang menaungi kita. Hanya Allah yang tahu berapa lapisnya, yang dikatakan kepada kita hanya tujuh. Menakjubkan pada siang hari dengan berbagai awan germawan, mengharukan malam harinya dengan berbagai bintang gemintang.Bumi adalah tempat kita berdiam, penuh dengan aneka keganjilan. Makin diselidiki makin mengandung rahasia ilmu yang belum terurai. Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib. Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup. Semua bergerak menurut aturan.Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang bernyawa. Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya. Musim pun silih berganti. Musim dingin, panas,gugur, dan semi. Demikian juga hujan dan panas. Semua ini menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah bagi orang yang berpikir. Bahwa tidaklah semuanya terjadi dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.Orang yang melihat dan memikirkan hal itu, akan meninjau menurut bakat pikirannya masing-masing. Apakah dia seorang ahli ilmu alam, ahli ilmu bintang, ahli ilmu tanaman, ahli ilmu pertambangan, seorang filosofis, ataupun penyair dan seniman. Semuanya akan terpesona oleh susunan tabir alam yang luar biasa. Terasa kecil diri di hadapan kebesaran alam, terasa kecil alam di hadapan kebesaran penciptanya. Akhirnya tak ada arti diri, tak ada arti alam, yang ada hanyalah Dia, Yang Maha Pencipta. Di akhir ayat 190, manusia yang mampu melihat alam sebagai tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya, Allah sebut sebagai Ulil Albab (orang-orang yang berpikir).Dalam ayat 191, diterangkan karakteristik Ulil Albab, yaitu selalu melakukan aktivitas dzikir dan fikir sebagai metode memahami alam, baik yang ghaib maupun yang nyata.Dzikir, secara bahasa berasal dari kata dzakara , tadzakkara, yang artinya menyebut, menjaga, mengingat-ingat. Secara istilah dzikir artinya tidak pernah melepaskan Allah dari ingatannya ketika beraktifitas. Baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Ketiga hal itu mewakili aktifitas manusia dalam hidupnya. Jadi,dzikir merupakan aktivitas yang harus selalu dilakukan dalam kehidupan. Dzikir dapat dilkukan dengan hati,lisan, maupun perbuatan. Dzikir dengan hati artinya kalbu manusia harus selalu bertaubat kepada Allah, disebabkan adanya cinta, takut, dan harap kepada-Nya yang berhimpun di hati (Qolbudz Dzakir). Dari sini tumbuh keimanan yang kokoh, kuat dan mengakar di hati. Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama Allah dengan lisan. Misalnya saat mendapatkan nikmat mengucapkan hamdalah. Ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan basmalah. Ketika takjub mengucapkan tasbih. Dzikir dengan perbuatan berarti memfungsikan seluruh anggota badan dalam kegiatan yang sesuai dengan aturan Allah.Fikir, secara bahasa adalah fakara, tafakkara yang artinya memikirkan, mengingatkan, teringat. Dalam hal ini berpikir berarti memikirkan proses kejadian alam semesta dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya sehingga mendapatkan manfaat daripadanya dan teringat atau mengingatkan kita kepada sang Pencipta alam, Allah SWT.Dengan dzikir manusia akan memahami secara jelas petunjuk ilahiyah yang tersirat maupun yang tersurat dalam al-Qur’an maupun as-sunnah sebagai minhajul hayah (pedoman hidup). Dengan fikir, manusia mampu menggali berbagai potensi yang terhampar dan terkandung pada alam semesta. Aktivitas dzikir dan fikir tersebut harus dilakukan secara seimbang dan sinergis (saling berkaitan dan mengisi). Sebab jika hanya melakukan aktivitas fikir, hidup manusia akan tenggelam dalam kesesatan. Jika hanya melakukan aktivitas dzikir, manusia akan terjerumus dalam hidup jumud (tidak berkembang, statis). Sedangkan, jika melakukan aktivitas dzikir dan fikir tetapi masing-masing terpisah, dikhawatirkan manusia akan menjadi sekuler.
Bagi Ulil Albab, kedua aktivitas itu akan berakhir pada beberapa kesimpulan:· Allah dengan segala kebesaran dan keagungan-Nya adalah pencipta alam semesta termasuk manusia.· Tiada yang sia-sia dalam penciptaan alam.Semua mengandung nilai-nilai dan manfaat.· Mensucikan Allah dengan bertasbih dan bertahmid memuji-Nya.· Menumbuhkan ketundukan dan rasa takut kepada Allah dan hari Akhir.
Langganan:
Postingan (Atom)