1. Terimalah bahwa diri kamu tidak sempurna dan memiliki kekurangan. Sehingga kekurangan dan kelemahan itu bisa kamu pelajari dan perbaiki.
2. Jangan menanggapi kritik secara pribadi. Sebaik apapun kamu sebagai seorang karyawan, tiap orang pasti dapat dikritik. Bersikaplah santai dan tenang dalam menerima setiap kritikan.
3. Dengarkan baik-baik kritikan itu dan jadikan sebagai masukkan positif bagi diri kamu. Karena kalau kamu abaikan, kemungkinan besar kesalahan yang sama akan terulang lagi.
4. Pahamilah bahwa ada orang-orang tertentu yang memang suka memberikan kritik. Mereka selalu melihat prestasi kerja orang lain dari sisi negatif. Terimalah mereka apa adanya.
5. Orang yang berani memberikan kritik umumnya adalah orang yang pandai dan kreatif. Mereka mampu melihat cara-cara lain untuk melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik tapi mereka sampaikan dengan nada yang negatif. Jangan bersikap defensif karena mereka mungkin dapat memberikan usulan yang sangat berguna bagi diri kamu.
6. Ketika dikritik, yakinkan diri bahwa itu bukan karena atasan atau bos membenci atau tidak menyukai kamu, melainkan agar hasil kerja dan produktivitas kamu lebih baik lagi.
7. Kadang-kadang seseorang melontarkan kritik hanya sekedar untuk melepaskan kekesalan hatinya. Bila ini yang terjadi, jadilah pendengar yang baik. Mungkin yang mereka keluhkan sebenarnya hanyalah sesuatu yang kurang berarti.
8. Dengarkan tiap kritik dengan seksama. Bila perlu, bertanyalah untuk menyakinkan bahwa kamu telah menangkap kritiknya.
9. Jangan fokus pada rasa marah atau sakit hati. Lebih baik fokus pada pekerjaan agar mendapatkan hasil yang lebih baik.
10. Jika kritikan yang diterima membuat kamu sakit hati, tidak ada salahnya untuk mengutarakan perasaan tersebut pada atasan. Sehingga atasan pun akan mengerti perasaan kamu dan membuat hubungan atasan-bawahan menjadi lebih kuat.
11. Dalam menerima kritik apapun juga, cobalah melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah itu. Bila kamu tak dapat melakukan apapun juga, katakanlah dengan jujur dan berilah perhatian tulus atas usulan atau kritikan tersebut.
12. Bila kritikan itu sehubungan dengan kesalahan yang memang kamu lakukan, akuilah dengan jujur. Tiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak perlu merasa malu.
13. Bila rekan atau atasan kamu mengutarakan kritik atau sarannya, berarti mereka masih memperhatikan kamu. Justru kalau tidak ada yang mengkritik, kamu harus waspada.
14. Jadikan kritikan tersebut sebagai motivasi untuk bekerja lebih baik dan biasakan untuk selalu teliti dalam bekerja agar meminimalisir kesalahan.
Minggu, 28 Maret 2010
Kamis, 31 Desember 2009
Makna Muhasabah
Oleh: Mochamad Bugi
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Gambaran Umum Hadits
Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.
Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.
Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.
Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.
Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.
2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]
2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)
3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Gambaran Umum Hadits
Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.
Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.
Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.
Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.
Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.
2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]
2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)
3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]
Selasa, 01 Desember 2009
DISIPLIN : BENTUK KETAATAN
Oleh : Yayat Duryatna
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan menjadi tanggung jawab. Disiplin adalah sebuah perilaku ketaatan terhadap nilai yang diyakini dan aturan-aturan yang disepakati bersama. Dalam konteks ajaran Islam setiap muslim wajib mentaati setiap nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam karena nilai-nilai itu telah diyakini olehnya sebagai bentuk pembenaran. Mentaati setiap aturan atau nilai-nilai adalah salah satu bentuk pemhambaan setiap muslim terhadap sang khaliq, bentuk penghambaan inilah melahirkan konsistensi diri dari setiap aturan atau nilai-nilai tersebut. Disetiap ibadah yang telah digariskan dalam ajaran Islam mengandung makna keteraturan, ibadah shalat misalnya adalah hukum-hukum yang mewajibkan setiap muslim mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam shalat atau lebih dikenal sebagai rukun shalat; mulai dari niat, berdiri thumaninah, takbiratul ikhram, membaca al fatihah, ruku thumaninah, I’tidal thumaninah, sujud thumaninah, duduk diantara dua sujud, duduk tahiyatul awal, dan salam. Setiap muslim harus taat terhadap rukun-rukun salat tersebut, itulah bentuk kedisiplinan seorang hamba terhadap pelaksanaan ibadah salat. Konteks ketaatan dalam salat inilah salah satu bentuk disiplin diri terhadap ibadah salat atau bahkan bentuk ketaatan diri kepada sang khalik. Dalam ajaran, Islam banyak ayat Al Qur’an dan Hadist, yang memerintahkan disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan, antara lain surat An Nisa ayat 59 :
" Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya dan kepada Ulil Amri dari (kalangan) kamu…………..(QS:An Nisa 59)
Bahkan bentuk ketaatan kita tidak hanya terbatas pada Allah Swt saja, Allah Swt menganjurkan kita taat pada Rasul Saw, dan kepada Ulil Amri (pemimpin). Kepada Allah Swt kita meyakini bahwa Dialah sang pencipta kita, Dialah yang mengetahui segala rupa dan bentuk setiap hambanya, Dialah yang mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, Dialah yang Maha dari segala kemahaan yang ada di alam jagad ini. Ketaatan kita kepada Allah Swt citra penghambaan setiap ciptaannya. Kepada Rasul saw kita meyakini bahwa Dialah yang paling memahami keinginan Allah kepada hambanya, Dialah yang memperagakan nilai-nilai ajaran Allah dalam bentuk ibadah, Dialah yang mengejewantahkan ajaran-ajaran ilahiyah serta membumikannya ke dalam kultur dan dimensi manusia. Ketaatan kita kepada Rasul saw adalah bentuk ketaatan kita kepada kekasih yang maha dikasihi oleh Allah Swt. Kepada Ulil amri (pemimpin) dialah yang kita yakini dan kita sepaki memiliki jiwa kepemimpnan dan yang mampu membawa kita menuju kehidupan yang lebih bahagia dan sejahtera. Seorang pemimpin yang kita pilih dan sepakati bersama, ketaatan kita adalah bentuk ketaatan terhadap apa-apa yang kita pilih dan kita sepakati bersama ketaatan kepada pemimpin adalah bentuk kecintaan kita kepada Rasul saw yang telah memberikan contoh dalam hal memilih pemimpin yang amanah. Ketaatan adalah bentuk kedisplinan, disiplin dalam menjalankan ibadah merupakan ketaatan kita pada yang menganjurkan ibadah tersebut. Sama halnya dengan disiplin dalam melaksanakan setiap aturan-aturan yang berlaku adalah bentuk ketaatan terhadap aturan-aturan tersebut.
Mendisiplinkan diri kita agar tetap konsisten menjalankan nilai- nilai dan aturan-aturan yang mengikat, maka setidaknya perlu melakukan pembiasaan dan latihan, semakin terbiasa kita berdisiplin atau melakukan ketaatan maka terasa ada yang hilang dalam diri kita apabila kita tidak melakukannya. Disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa. Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai manusia kita perlu melakukan pembiasaan diri dalam berdisiplin terhadap berbagai hal, tentu dengan segala konsekuensinya yang berpengaruh pada pola hidup dan kehidupan kita, seperti :
A. Disiplin dalam penggunaan Waktu
Disiplin dalam penggunaan waktu perlu diperhatikan dengan seksama. Waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat kembali lagi. Hari yang sudah lewat tak akan datang lagi. Demikian pentingnya waktu sehingga berbagai bangsa di dunia mempunyai ungkapan yang menyatakan penghargaan terhadap waktu. Orang Inggris mengatakan „waktu adalah uang", peribahasa Arab mengatakan „ Waktu adalah pedang", atau „Waktu adalah peluang emas", dan kita orang Indonesia mengatakan :" sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna".
Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya, dan sebaliknya banyak orang yang gagal karena terlindas oleh waktu, orang-orang yang tidak mentaati akan pentingnya memanfaatkan waktu bagi dirinya.
B. Disiplin dalam beribadah
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk atau merendahkan diri. Pengertian yang lebih luas dalam ajaran Islam, ibadah berarti tunduk dan merendah diri hanya kepada Allah yang disertai perasaan cinta kepada-Nya. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa disiplin dalam beribadah itu mengendung dua hal :
a. Berpegang teguh apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah atau larangan, maupun ajaran yang bersifat menghalalkan, menganjurkan, sunnah dan makruh.
b. Sikap berpegang teguh yang berdasarkan cinta kepada Allah, bukan karena rasa takut atau terpaksa. Maksud cinta kepada Allah adalah senantiasa taat kepada-Nya. Perhatikan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 31 :
•
" Katakanlah : " Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)
C. Disiplin dalam bermasyarakat
Hidup bermasyarakat adalah fitrah manusia. Dilihat dari latar belakang budaya setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Karenanya setiap manusia memiliki watak dan tingkah laku yang berbeda. Namun demikian, dengan bermasyarakat, mereka telah memiliki norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan serta peraturan yang disepakati bersama, yang harus dihormati dan di hargai serta ditaati oleh setiap anggota masyarakat tersebut.
Agama Islam mengibaratkan anggota masyarakat itu bagaikan satu bangunan yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lain mempunyai fungsi yang berbeda-beda, mana kala salah satu komponen rusak atau binasa. Hadis Nabi Saw menegaskan :
" Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan bangunan yang sebagian dari mereka memperkuat bagian lainnya. Kemudian beliau menelusupkan jari-jari yang sebelah kejari-jari tangan sebelah lainnya". ( H.R.Bukhori Muslim dan Turmudzi)
D. Disiplin Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Negara adalah alat untuk meeperjuangkan keinginan bersama berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh para anggota atau warganegara tersebut. Tanpa adanya masyarakat yang menjadi warganya, negara tidak akan terwujud. Oleh karena itu masyarakat merupakan prasyarat untuk berdirinya suatu negara. Tujuan dibentuknya suatu negara adalah agar seluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga masyarakat dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan.
Rasulullah bersabda yang artinya :
“Seorang muslim wajib mendengar dan taat, baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah mengerjakan maksiat, maka tidak wajib untuk mendengar dan taat". (H.R.Bukhari Muslim).
Dengan berprinsip untuk tetap menjalankan fungsi kehambaan kita, maka tidaklah pantas bagi kita untuk tidak mendisiplinkan diri terhadap nilai-nilai dan aturan-aturan yang mengikatkan diri kita sebagai seorang muslim karena dengan berdisiplin maka kita telah melakukan satu ketaatan. Pada akhirnya kita berdo’a kepada Allah Swt agar kita diberi kemampuan dan kemauan untuk selalu istiqomah melaksanakan disiplin sebagai bentuk ketaatan kita.
TunjukilahKami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
DAFTAR PUSTAKA
AL QUR’AN DAN TERJEMAHANNYA, CV Asyifa, Semarang, 1998
Bahroin suryantara, PEDOMAN PRAKTIK SHALAT BERJAMA’AH, Al-Izhar Pondok labu, Jakarta, 2001
Yusuf Qardhawi, MANAJEMEN WAKTU SEORANG MULIM, Ziyads Book, Bandung, [s.a]
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan menjadi tanggung jawab. Disiplin adalah sebuah perilaku ketaatan terhadap nilai yang diyakini dan aturan-aturan yang disepakati bersama. Dalam konteks ajaran Islam setiap muslim wajib mentaati setiap nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam karena nilai-nilai itu telah diyakini olehnya sebagai bentuk pembenaran. Mentaati setiap aturan atau nilai-nilai adalah salah satu bentuk pemhambaan setiap muslim terhadap sang khaliq, bentuk penghambaan inilah melahirkan konsistensi diri dari setiap aturan atau nilai-nilai tersebut. Disetiap ibadah yang telah digariskan dalam ajaran Islam mengandung makna keteraturan, ibadah shalat misalnya adalah hukum-hukum yang mewajibkan setiap muslim mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam shalat atau lebih dikenal sebagai rukun shalat; mulai dari niat, berdiri thumaninah, takbiratul ikhram, membaca al fatihah, ruku thumaninah, I’tidal thumaninah, sujud thumaninah, duduk diantara dua sujud, duduk tahiyatul awal, dan salam. Setiap muslim harus taat terhadap rukun-rukun salat tersebut, itulah bentuk kedisiplinan seorang hamba terhadap pelaksanaan ibadah salat. Konteks ketaatan dalam salat inilah salah satu bentuk disiplin diri terhadap ibadah salat atau bahkan bentuk ketaatan diri kepada sang khalik. Dalam ajaran, Islam banyak ayat Al Qur’an dan Hadist, yang memerintahkan disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan, antara lain surat An Nisa ayat 59 :
" Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya dan kepada Ulil Amri dari (kalangan) kamu…………..(QS:An Nisa 59)
Bahkan bentuk ketaatan kita tidak hanya terbatas pada Allah Swt saja, Allah Swt menganjurkan kita taat pada Rasul Saw, dan kepada Ulil Amri (pemimpin). Kepada Allah Swt kita meyakini bahwa Dialah sang pencipta kita, Dialah yang mengetahui segala rupa dan bentuk setiap hambanya, Dialah yang mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, Dialah yang Maha dari segala kemahaan yang ada di alam jagad ini. Ketaatan kita kepada Allah Swt citra penghambaan setiap ciptaannya. Kepada Rasul saw kita meyakini bahwa Dialah yang paling memahami keinginan Allah kepada hambanya, Dialah yang memperagakan nilai-nilai ajaran Allah dalam bentuk ibadah, Dialah yang mengejewantahkan ajaran-ajaran ilahiyah serta membumikannya ke dalam kultur dan dimensi manusia. Ketaatan kita kepada Rasul saw adalah bentuk ketaatan kita kepada kekasih yang maha dikasihi oleh Allah Swt. Kepada Ulil amri (pemimpin) dialah yang kita yakini dan kita sepaki memiliki jiwa kepemimpnan dan yang mampu membawa kita menuju kehidupan yang lebih bahagia dan sejahtera. Seorang pemimpin yang kita pilih dan sepakati bersama, ketaatan kita adalah bentuk ketaatan terhadap apa-apa yang kita pilih dan kita sepakati bersama ketaatan kepada pemimpin adalah bentuk kecintaan kita kepada Rasul saw yang telah memberikan contoh dalam hal memilih pemimpin yang amanah. Ketaatan adalah bentuk kedisplinan, disiplin dalam menjalankan ibadah merupakan ketaatan kita pada yang menganjurkan ibadah tersebut. Sama halnya dengan disiplin dalam melaksanakan setiap aturan-aturan yang berlaku adalah bentuk ketaatan terhadap aturan-aturan tersebut.
Mendisiplinkan diri kita agar tetap konsisten menjalankan nilai- nilai dan aturan-aturan yang mengikat, maka setidaknya perlu melakukan pembiasaan dan latihan, semakin terbiasa kita berdisiplin atau melakukan ketaatan maka terasa ada yang hilang dalam diri kita apabila kita tidak melakukannya. Disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa. Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai manusia kita perlu melakukan pembiasaan diri dalam berdisiplin terhadap berbagai hal, tentu dengan segala konsekuensinya yang berpengaruh pada pola hidup dan kehidupan kita, seperti :
A. Disiplin dalam penggunaan Waktu
Disiplin dalam penggunaan waktu perlu diperhatikan dengan seksama. Waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat kembali lagi. Hari yang sudah lewat tak akan datang lagi. Demikian pentingnya waktu sehingga berbagai bangsa di dunia mempunyai ungkapan yang menyatakan penghargaan terhadap waktu. Orang Inggris mengatakan „waktu adalah uang", peribahasa Arab mengatakan „ Waktu adalah pedang", atau „Waktu adalah peluang emas", dan kita orang Indonesia mengatakan :" sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna".
Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya, dan sebaliknya banyak orang yang gagal karena terlindas oleh waktu, orang-orang yang tidak mentaati akan pentingnya memanfaatkan waktu bagi dirinya.
B. Disiplin dalam beribadah
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk atau merendahkan diri. Pengertian yang lebih luas dalam ajaran Islam, ibadah berarti tunduk dan merendah diri hanya kepada Allah yang disertai perasaan cinta kepada-Nya. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa disiplin dalam beribadah itu mengendung dua hal :
a. Berpegang teguh apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah atau larangan, maupun ajaran yang bersifat menghalalkan, menganjurkan, sunnah dan makruh.
b. Sikap berpegang teguh yang berdasarkan cinta kepada Allah, bukan karena rasa takut atau terpaksa. Maksud cinta kepada Allah adalah senantiasa taat kepada-Nya. Perhatikan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 31 :
•
" Katakanlah : " Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)
C. Disiplin dalam bermasyarakat
Hidup bermasyarakat adalah fitrah manusia. Dilihat dari latar belakang budaya setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Karenanya setiap manusia memiliki watak dan tingkah laku yang berbeda. Namun demikian, dengan bermasyarakat, mereka telah memiliki norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan serta peraturan yang disepakati bersama, yang harus dihormati dan di hargai serta ditaati oleh setiap anggota masyarakat tersebut.
Agama Islam mengibaratkan anggota masyarakat itu bagaikan satu bangunan yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lain mempunyai fungsi yang berbeda-beda, mana kala salah satu komponen rusak atau binasa. Hadis Nabi Saw menegaskan :
" Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan bangunan yang sebagian dari mereka memperkuat bagian lainnya. Kemudian beliau menelusupkan jari-jari yang sebelah kejari-jari tangan sebelah lainnya". ( H.R.Bukhori Muslim dan Turmudzi)
D. Disiplin Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Negara adalah alat untuk meeperjuangkan keinginan bersama berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh para anggota atau warganegara tersebut. Tanpa adanya masyarakat yang menjadi warganya, negara tidak akan terwujud. Oleh karena itu masyarakat merupakan prasyarat untuk berdirinya suatu negara. Tujuan dibentuknya suatu negara adalah agar seluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga masyarakat dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan.
Rasulullah bersabda yang artinya :
“Seorang muslim wajib mendengar dan taat, baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah mengerjakan maksiat, maka tidak wajib untuk mendengar dan taat". (H.R.Bukhari Muslim).
Dengan berprinsip untuk tetap menjalankan fungsi kehambaan kita, maka tidaklah pantas bagi kita untuk tidak mendisiplinkan diri terhadap nilai-nilai dan aturan-aturan yang mengikatkan diri kita sebagai seorang muslim karena dengan berdisiplin maka kita telah melakukan satu ketaatan. Pada akhirnya kita berdo’a kepada Allah Swt agar kita diberi kemampuan dan kemauan untuk selalu istiqomah melaksanakan disiplin sebagai bentuk ketaatan kita.
TunjukilahKami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
DAFTAR PUSTAKA
AL QUR’AN DAN TERJEMAHANNYA, CV Asyifa, Semarang, 1998
Bahroin suryantara, PEDOMAN PRAKTIK SHALAT BERJAMA’AH, Al-Izhar Pondok labu, Jakarta, 2001
Yusuf Qardhawi, MANAJEMEN WAKTU SEORANG MULIM, Ziyads Book, Bandung, [s.a]
Sabtu, 24 Oktober 2009
integritas muslim
•
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Al-Araaf : 172)
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah swt
Ayat yang saya baca di awal khutbah tadi adalah sebuah ayat persaksian sebuah ayat dalam bahasa sekarang sebagai integritas seorang manusia kepada Allah swt. Bahasa integritas belakangan banyak dimunculkan media saat Presiden memberikan amanahnya kepada para menteri di istana Negara sesaat pelantikan kabinet Indonesia bersatu jilid II. Para menteri diminta mengingat bahawa mereka telah menandatangi pakta integritas yaitu lebih loyal kepada presiden sebagai kepala pemerintahan dibandingkan dengan para pimpinan parpolnya. Sangat wajar kekawatiran Presiden, karena lebiih 50% anggota kabinetnya berasal dari kalangan partai politik. Para menteri diminta loyal kepada presiden karena mereka telah bersepakat membuat suatu persaksian atau perjanjian.
Setiap manusia sesungguhnya juga telah menjadi saksi sesaat Allah swt menempatkan ruh kedalam jasad setiap hambanya. Dan persaksian jauh lebih mulia dibandingkan persaksian para menteri karena yang meminta agar setiap insan itu loyal bukan presiden tetapi Tuhannya presiden.
Jama’ah yang berbahagia
Loyalitas kita kepada Allah sesungguhnya telah ditanamkan oleh Allah swt. Dan kita telah membuat sebuah persaksian. Sebuah persaksian yang tidak hanya ditanda tangani oleh fisik saja tetapi jauh lebih mulia dan lebih lekang sebuah pakta integritas yang tidak dibatas oleh waktu sebagaimana para menteri yang dibatasi selama 5 tahun tetapi berlaku sampai ruh terlepas dengan raga kita saat kematian menghampiri kita. Iutlah sebuah persaksian abadi sebuah persaksian yang akan melahirkan sebuah komitmen yang tertanam dalam hati setiap manusia. Komitmen untuk tidak menyekutukan Allah swt. Sebuah komitmen yang menempatkan Allah swt diatas segalanya. Sebuah komitmen yang menjalankan kewajiban manusia terhadap hak-hak Allah swt.
"Bukankah aku ini Tuhanmu?"
"Betul (Engkau Tuban kami),
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.
Persaksian yang telah kita nyatakan bahwa Allah swt adalah Rabb kami adalah sebuah persaksian seorang hamba terhadap rabbnya. Kita sadar dan menyadari tidak ada ilah selain dari Allah swt. Sebagaimana kita ucapkan dalam syahadat. Komitmen kita dari apa yang telah kita persaksian kepada Allah swt adalah sbeuah komitmen yang terus kita jalani selama kita menjadi khalifah dimuka bumi ini. Jadi tidak ada manusia yang mengatakan dia tidak kenal Tuhannya, tidak ada manusia yang mengatakan bahwa keberadaan dimuka bumi ini adalah hanyalah sebuah kebetulan saja tidak ada yang merencanakan, bohong kalau sampai manusia mengatakan bahawa keberadaanya adalah kehendak dirinya dan nenek moyangnya.
Allah swt menciptakan manusia dan memberi kesempatan pada manusia untuk menjadi khalifah di bumi ini adalah agar manusia menyadari keberadaanya. Bahwa Allah punya misi terhadap setiap manusia dan misi Allah swt. Adalah agar manusia menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Yaitu dengan menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Dan beribadah hanya kepada Allah swt.
Jama’ah yang mulia
Sebuah persaksian atau sebuah perjanjian tentu harus kita tepati karena ada konsekkuansi logis apabila kita melanggar perjanjian tersebut mungkin para menteri yang melanggar perjanjian akan dipecat oleh presiden ukurannya adalah hak preogatif presiden dan si menteri menjadi orang biasa lagi dia bisa beraktifitas di bidang lain. Kalau kesalahan itu ukurannya duniawi maka dia hanya bersalah pada kesepakatan yang telah ditanda tangani. Tetapi kalau kita sebagai manusia melanggar perjanian yang kita buat dengan Allah swt. Bagaiman mungkin kita bisa menghindar dari kesalahan itu, sebuah kesalahan yang hanya bisa ditebus dengan taubat, taubatan nasuha.
Misalnya; dengan mempersekutukannya, dengan melalaikan kewajiban seorang hamba, dengan tidak memenuhi hak-hak-Nya.
Kiat diingatkan oleh Allah swt pada surat An nahal ayat 91
•
dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Jama’ah jumat yang dimuliakan Allah swt.
Hendaklah setiap kita mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya : “wahai jiwaku, sesungguhnya kamu berjanji kepada Rabbmu setiap hari saat kamu membaca dalam tiap bacaan shalatnya.
“hanya kepada engaku kami beribadah dna hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Al-Araaf : 172)
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah swt
Ayat yang saya baca di awal khutbah tadi adalah sebuah ayat persaksian sebuah ayat dalam bahasa sekarang sebagai integritas seorang manusia kepada Allah swt. Bahasa integritas belakangan banyak dimunculkan media saat Presiden memberikan amanahnya kepada para menteri di istana Negara sesaat pelantikan kabinet Indonesia bersatu jilid II. Para menteri diminta mengingat bahawa mereka telah menandatangi pakta integritas yaitu lebih loyal kepada presiden sebagai kepala pemerintahan dibandingkan dengan para pimpinan parpolnya. Sangat wajar kekawatiran Presiden, karena lebiih 50% anggota kabinetnya berasal dari kalangan partai politik. Para menteri diminta loyal kepada presiden karena mereka telah bersepakat membuat suatu persaksian atau perjanjian.
Setiap manusia sesungguhnya juga telah menjadi saksi sesaat Allah swt menempatkan ruh kedalam jasad setiap hambanya. Dan persaksian jauh lebih mulia dibandingkan persaksian para menteri karena yang meminta agar setiap insan itu loyal bukan presiden tetapi Tuhannya presiden.
Jama’ah yang berbahagia
Loyalitas kita kepada Allah sesungguhnya telah ditanamkan oleh Allah swt. Dan kita telah membuat sebuah persaksian. Sebuah persaksian yang tidak hanya ditanda tangani oleh fisik saja tetapi jauh lebih mulia dan lebih lekang sebuah pakta integritas yang tidak dibatas oleh waktu sebagaimana para menteri yang dibatasi selama 5 tahun tetapi berlaku sampai ruh terlepas dengan raga kita saat kematian menghampiri kita. Iutlah sebuah persaksian abadi sebuah persaksian yang akan melahirkan sebuah komitmen yang tertanam dalam hati setiap manusia. Komitmen untuk tidak menyekutukan Allah swt. Sebuah komitmen yang menempatkan Allah swt diatas segalanya. Sebuah komitmen yang menjalankan kewajiban manusia terhadap hak-hak Allah swt.
"Bukankah aku ini Tuhanmu?"
"Betul (Engkau Tuban kami),
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.
Persaksian yang telah kita nyatakan bahwa Allah swt adalah Rabb kami adalah sebuah persaksian seorang hamba terhadap rabbnya. Kita sadar dan menyadari tidak ada ilah selain dari Allah swt. Sebagaimana kita ucapkan dalam syahadat. Komitmen kita dari apa yang telah kita persaksian kepada Allah swt adalah sbeuah komitmen yang terus kita jalani selama kita menjadi khalifah dimuka bumi ini. Jadi tidak ada manusia yang mengatakan dia tidak kenal Tuhannya, tidak ada manusia yang mengatakan bahwa keberadaan dimuka bumi ini adalah hanyalah sebuah kebetulan saja tidak ada yang merencanakan, bohong kalau sampai manusia mengatakan bahawa keberadaanya adalah kehendak dirinya dan nenek moyangnya.
Allah swt menciptakan manusia dan memberi kesempatan pada manusia untuk menjadi khalifah di bumi ini adalah agar manusia menyadari keberadaanya. Bahwa Allah punya misi terhadap setiap manusia dan misi Allah swt. Adalah agar manusia menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Yaitu dengan menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Dan beribadah hanya kepada Allah swt.
Jama’ah yang mulia
Sebuah persaksian atau sebuah perjanjian tentu harus kita tepati karena ada konsekkuansi logis apabila kita melanggar perjanjian tersebut mungkin para menteri yang melanggar perjanjian akan dipecat oleh presiden ukurannya adalah hak preogatif presiden dan si menteri menjadi orang biasa lagi dia bisa beraktifitas di bidang lain. Kalau kesalahan itu ukurannya duniawi maka dia hanya bersalah pada kesepakatan yang telah ditanda tangani. Tetapi kalau kita sebagai manusia melanggar perjanian yang kita buat dengan Allah swt. Bagaiman mungkin kita bisa menghindar dari kesalahan itu, sebuah kesalahan yang hanya bisa ditebus dengan taubat, taubatan nasuha.
Misalnya; dengan mempersekutukannya, dengan melalaikan kewajiban seorang hamba, dengan tidak memenuhi hak-hak-Nya.
Kiat diingatkan oleh Allah swt pada surat An nahal ayat 91
•
dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Jama’ah jumat yang dimuliakan Allah swt.
Hendaklah setiap kita mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya : “wahai jiwaku, sesungguhnya kamu berjanji kepada Rabbmu setiap hari saat kamu membaca dalam tiap bacaan shalatnya.
“hanya kepada engaku kami beribadah dna hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”
Senin, 21 September 2009
Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
Kemenangan akan kita gapai
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin
Kemenangan akan kita gapai
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin
Sabtu, 05 September 2009
KEMENANGAN HAKIKI
Setelah sebulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan, umat Muslim melaksanakan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari penuh kegembiraan. Wajarlah kaum Muslim merasa gembira pada saat hari raya tersebut. Namun, kegembiraannya bukanlah karena pesta dan hiburan; bukan pula karena telah bebas dari kungkungan puasa. Sebab, kebahagian seperti itu merupakan kebahagiaan yang lahir dari keterpaksaan, atau setidaknya, bahagia jauh dari kewajiban. Kebahagiaan yang ada adalah kebahagiaan karena telah berhasil menunaikan salah satu kewajiban dan kesiapan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban berikutnya sehingga menjadikan Idul Fitri lebih bermakna.
Seperti diketahui, Idul Fitri atau Lebaran ada setelah ditunaikan puasa Ramadhan. Dengan kata lain, hari raya tersebut merupakan hari pertama setelah proses puasa selesai. Lantas, produk apa yang dihasilkan dalam proses puasa tersebut?
Orang yang menunaikan puasa dengan benar sejatinya menjadi orang yang bertakwa, yakni orang yang memelihara dirinya dari kemaksiatan. Sebab, puasa itu mematahkan syahwat sebagai pangkal kemaksiatan.
Berdasarkan hal tersebut maka Idul Fitri tersebut harus dipandang sebagai kelahiran kembali orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjelma menjadi orang bertakwa. Lebaran bukanlah akhir dari ketaatan, melainkan awal dari ketakwaan baru. Karenanya, Lebaran akan bermakna hanya jika setiap Muslim menampakkan ketakwaan tersebut dalam aktivitasnya sehari-hari.
Pada saat Idul Fitri wajah kaum Muslim tampak memancarkan kebahagiaan sebagai lambang kemenangan. Hari itu kaum Muslim memproklamirkan kemenangannya atas hawa nafsunya. Rasa syukur diwujudkan dengan lebih mengukuhkan kembali silaturahmi dengan handai taulan dan silah ukhuwah (tali persaudaraan) dengan kaum Muslim yang lain. Sejatinya, suasana yang subur dengan kebahagiaan dan hangatnya ukhuwah pada Hari Raya Idul Fitri ini dapat menumbuhkan ghîrah (semangat) baru untuk bersama-sama menata kembali kehidupan. Sebab, Idul Fitri merupakan hari pertama pasca Ramadhan; kaum Muslim mengawali hari-hari berikutnya dalam 11 bulan ke depan. Sudah sepatutnya mereka, sejak hari pertama itu melakukan muhâsabah (perenungan) secara menyeluruh terhadap kondisi yang dialami bangsa ini. Kemudian akan memberikan kesadaran tentang realitas dan langkah-langkah perubahan yang harus dilakukan pada 11 bulan berikutnya, dengan bekal ketakwaan yang telah dipupuk selama Ramadhan.
Kebahagiaan dalam Penderitaan
Kaum Muslim yang berpuasa Ramadhan memang patut berbahagia merayakan Idul Fitri. Namun, secara faktual, kondisi bangsa kita saat ini sebetulnya jauh dari membahagiakan sebagaimana kebahagiaan pada saat merayakan Idul Fitri.
Semua orang tahu, alam Indonesia sangat kaya. Areal hutannya termasuk paling luas di dunia, tanahnya subur, dan alamnya indah. Indonesia juga adalah negeri yang memiliki potensi kekayaan laut yang luar biasa. Wilayah perairannya sangat luas; kandungan ikannya diperkirakan mencapai 6,2 juta ton, belum lagi kandungan mutiara, minyak, dan kandungan mineral lainnya; di samping keindahan dan kekayaan alam bawah laut yang begitu melimpah.
Akan tetapi negeri kita Indonesia, saat ini termasuk dalam kelompok negeri – negeri miskin di dunia. Laporan Bank dunia terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 100 juta penduduk negeri ini berada di bawah garis kemiskinan. Menurut hasil SUSENAS diperkirakan sebanyak 5,7 juta balita (27,3%) mengalami masalah gizi buruk, 8% dari angka tersebut mengalami busung lapar (Kompas 28/5/2006).
Jika kita melihat lebih jauh, persoalan utama penyebab kemiskinan di Indonesia, bukanlah karena sumberdaya alam (SDA) yang kurang, bukan pula karena sumberdaya manusia (SDM) yang kurang. Hal ini karena ternyata kita memiliki SDA yang melimpah. Bangsa inipun juga memiliki SDM yang sebenarnya mampu mengelola kekayaan bangsa. Ternyata kondisi SDA Indonesia yang sangat berlimpah tidak diimbangi dengan pengelolaannya yang optimal oleh pemerintah.
Melihat kenyataan di atas, kaum Muslim perlu segera menentukan langkah untuk melakukan perubahan hakiki dan mendasar. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas persoalan yang dihadapi bangsa Indoensia. Perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan membangun kesadaran dan kekuatan politik yang menyatukan seluruh potensi SDA maupun SDM bangsa Indoensia.
Sebagai wujud kepedulian kita sebagai mahasiswa terhadap kondisi SDA dan pengelolaannya, dimana mahasiswa sendiri adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi dan pengaruh khusus, yaitu pengembangan wacana kritis dan melakukan perang pemikiran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro masyarakat serta kewajiban kita sebagai seorang Muslim, terutama pengelolaan SDA Kawasan Timur Indoensia (KTI) khususnya selain itu memberikan masukan-masukan wacana kritis terkait dengan eksploitasi SDA dengan berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah KTI.
Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pengembangan bioenergi dengan menggunakan tanaman Jarak (Jatropha curcas, L) sebagai elternatif pengembangan bahan bakar minyak (bioenergi). Menyikapi keadaan seperti ini kita harus bersikap kritis, jangan sampai pemanfaatan tanaman Jarak sebagai bahan baku pengembangan bioenergi dapat menganggu ketahanan pangan karena terjadi kompetisi pemakaian lahan antara energi dan pangan. Diperlukan pengkajian dan penelitian oleh para akademisi secara mendalam terkait dengan kualitas dan dampak lingkungan yang timbul. Salain itu, secara aktif mengontrol kebijakan pemerintah dengan berpikir secara mendalam dampak yang ditimbulkannya (jika ingin membudidayakan). Sehingga jaminan akan kesejahteraan rakyat dapat terpenuhi (tentunya setelah pemenuhan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi).
Pengelolaan SDA yang salah dikarenakan kebijakan pemerintah yang terlalu mudah untuk mengundang investor asing dan investor dalam negeri untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia melalui penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan manajemen pengelolaan SDA yang lebih berpihak pada para investor tersebut.
Pemerintah berkewajiban mengelola SDA yang besar seperti migas, tambang, hutan ataupun yang lainnya yang menjadi milik rakyat, yang hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Dengan kata lain, sumber daya alam itu milik rakyat, bukan milik negara apalagi milik swasta baik swasta asing maupun swasta dalam negeri. Kebijakan negara harus selalu memperhatikan kepentingan rakyat. Negara hanya berfungsi sebagai pengelola saja. Karena itu, seharusnya rakyat mendapatkan apa yang dimilikinya, dengan harga yang sesuai dengan biaya pengelolaannya bukan seperti yang terjadi selama ini. Rakyat membeli dengan harga pasar seolah-olah mereka bukan pemilik negeri ini.
Menuju Kemenangan Hakiki
Target puncak dari Ramadhan adalah terbentuknya ketakwaan pada diri kaum Muslim. Idul Fitri adalah hari pertama untuk menerapkan ketakwaan tersebut. Dengan kata lain, Idul Fitri sejatinya merupakan pintu gerbang menuju Kemenangan Hakiki dalam seluruh aspek kehidupan kaum Muslim yang penuh dengan atmosfir ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri sejatinya hanya mungkin diraih oleh kaum Muslim ketika Syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan mereka secara Islami dalam wadah Khilafah Muslimiyah.
Karena itu, pada hari yang fitri sudah sepatutnya kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan Syariat Islam. Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menetapkan kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan apa yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya dalam QS Ar-rum ayat 4-5 yang artinya:
“Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
***
Seperti diketahui, Idul Fitri atau Lebaran ada setelah ditunaikan puasa Ramadhan. Dengan kata lain, hari raya tersebut merupakan hari pertama setelah proses puasa selesai. Lantas, produk apa yang dihasilkan dalam proses puasa tersebut?
Orang yang menunaikan puasa dengan benar sejatinya menjadi orang yang bertakwa, yakni orang yang memelihara dirinya dari kemaksiatan. Sebab, puasa itu mematahkan syahwat sebagai pangkal kemaksiatan.
Berdasarkan hal tersebut maka Idul Fitri tersebut harus dipandang sebagai kelahiran kembali orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjelma menjadi orang bertakwa. Lebaran bukanlah akhir dari ketaatan, melainkan awal dari ketakwaan baru. Karenanya, Lebaran akan bermakna hanya jika setiap Muslim menampakkan ketakwaan tersebut dalam aktivitasnya sehari-hari.
Pada saat Idul Fitri wajah kaum Muslim tampak memancarkan kebahagiaan sebagai lambang kemenangan. Hari itu kaum Muslim memproklamirkan kemenangannya atas hawa nafsunya. Rasa syukur diwujudkan dengan lebih mengukuhkan kembali silaturahmi dengan handai taulan dan silah ukhuwah (tali persaudaraan) dengan kaum Muslim yang lain. Sejatinya, suasana yang subur dengan kebahagiaan dan hangatnya ukhuwah pada Hari Raya Idul Fitri ini dapat menumbuhkan ghîrah (semangat) baru untuk bersama-sama menata kembali kehidupan. Sebab, Idul Fitri merupakan hari pertama pasca Ramadhan; kaum Muslim mengawali hari-hari berikutnya dalam 11 bulan ke depan. Sudah sepatutnya mereka, sejak hari pertama itu melakukan muhâsabah (perenungan) secara menyeluruh terhadap kondisi yang dialami bangsa ini. Kemudian akan memberikan kesadaran tentang realitas dan langkah-langkah perubahan yang harus dilakukan pada 11 bulan berikutnya, dengan bekal ketakwaan yang telah dipupuk selama Ramadhan.
Kebahagiaan dalam Penderitaan
Kaum Muslim yang berpuasa Ramadhan memang patut berbahagia merayakan Idul Fitri. Namun, secara faktual, kondisi bangsa kita saat ini sebetulnya jauh dari membahagiakan sebagaimana kebahagiaan pada saat merayakan Idul Fitri.
Semua orang tahu, alam Indonesia sangat kaya. Areal hutannya termasuk paling luas di dunia, tanahnya subur, dan alamnya indah. Indonesia juga adalah negeri yang memiliki potensi kekayaan laut yang luar biasa. Wilayah perairannya sangat luas; kandungan ikannya diperkirakan mencapai 6,2 juta ton, belum lagi kandungan mutiara, minyak, dan kandungan mineral lainnya; di samping keindahan dan kekayaan alam bawah laut yang begitu melimpah.
Akan tetapi negeri kita Indonesia, saat ini termasuk dalam kelompok negeri – negeri miskin di dunia. Laporan Bank dunia terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 100 juta penduduk negeri ini berada di bawah garis kemiskinan. Menurut hasil SUSENAS diperkirakan sebanyak 5,7 juta balita (27,3%) mengalami masalah gizi buruk, 8% dari angka tersebut mengalami busung lapar (Kompas 28/5/2006).
Jika kita melihat lebih jauh, persoalan utama penyebab kemiskinan di Indonesia, bukanlah karena sumberdaya alam (SDA) yang kurang, bukan pula karena sumberdaya manusia (SDM) yang kurang. Hal ini karena ternyata kita memiliki SDA yang melimpah. Bangsa inipun juga memiliki SDM yang sebenarnya mampu mengelola kekayaan bangsa. Ternyata kondisi SDA Indonesia yang sangat berlimpah tidak diimbangi dengan pengelolaannya yang optimal oleh pemerintah.
Melihat kenyataan di atas, kaum Muslim perlu segera menentukan langkah untuk melakukan perubahan hakiki dan mendasar. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas persoalan yang dihadapi bangsa Indoensia. Perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan membangun kesadaran dan kekuatan politik yang menyatukan seluruh potensi SDA maupun SDM bangsa Indoensia.
Sebagai wujud kepedulian kita sebagai mahasiswa terhadap kondisi SDA dan pengelolaannya, dimana mahasiswa sendiri adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi dan pengaruh khusus, yaitu pengembangan wacana kritis dan melakukan perang pemikiran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro masyarakat serta kewajiban kita sebagai seorang Muslim, terutama pengelolaan SDA Kawasan Timur Indoensia (KTI) khususnya selain itu memberikan masukan-masukan wacana kritis terkait dengan eksploitasi SDA dengan berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah KTI.
Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pengembangan bioenergi dengan menggunakan tanaman Jarak (Jatropha curcas, L) sebagai elternatif pengembangan bahan bakar minyak (bioenergi). Menyikapi keadaan seperti ini kita harus bersikap kritis, jangan sampai pemanfaatan tanaman Jarak sebagai bahan baku pengembangan bioenergi dapat menganggu ketahanan pangan karena terjadi kompetisi pemakaian lahan antara energi dan pangan. Diperlukan pengkajian dan penelitian oleh para akademisi secara mendalam terkait dengan kualitas dan dampak lingkungan yang timbul. Salain itu, secara aktif mengontrol kebijakan pemerintah dengan berpikir secara mendalam dampak yang ditimbulkannya (jika ingin membudidayakan). Sehingga jaminan akan kesejahteraan rakyat dapat terpenuhi (tentunya setelah pemenuhan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi).
Pengelolaan SDA yang salah dikarenakan kebijakan pemerintah yang terlalu mudah untuk mengundang investor asing dan investor dalam negeri untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia melalui penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan manajemen pengelolaan SDA yang lebih berpihak pada para investor tersebut.
Pemerintah berkewajiban mengelola SDA yang besar seperti migas, tambang, hutan ataupun yang lainnya yang menjadi milik rakyat, yang hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Dengan kata lain, sumber daya alam itu milik rakyat, bukan milik negara apalagi milik swasta baik swasta asing maupun swasta dalam negeri. Kebijakan negara harus selalu memperhatikan kepentingan rakyat. Negara hanya berfungsi sebagai pengelola saja. Karena itu, seharusnya rakyat mendapatkan apa yang dimilikinya, dengan harga yang sesuai dengan biaya pengelolaannya bukan seperti yang terjadi selama ini. Rakyat membeli dengan harga pasar seolah-olah mereka bukan pemilik negeri ini.
Menuju Kemenangan Hakiki
Target puncak dari Ramadhan adalah terbentuknya ketakwaan pada diri kaum Muslim. Idul Fitri adalah hari pertama untuk menerapkan ketakwaan tersebut. Dengan kata lain, Idul Fitri sejatinya merupakan pintu gerbang menuju Kemenangan Hakiki dalam seluruh aspek kehidupan kaum Muslim yang penuh dengan atmosfir ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri sejatinya hanya mungkin diraih oleh kaum Muslim ketika Syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan mereka secara Islami dalam wadah Khilafah Muslimiyah.
Karena itu, pada hari yang fitri sudah sepatutnya kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan Syariat Islam. Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menetapkan kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan apa yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya dalam QS Ar-rum ayat 4-5 yang artinya:
“Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
***
WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR
Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: "Aku juga melihat ru'yah kalian pada tujuh malam terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir"
Lailatul Qadar mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena malam tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut turunlah para malaikat (termasuk malaikat Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam tersebut akan penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama).
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh di sini adalah tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya kalian kehilangan hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian melewatkan malam-malam terakhir bulan tersebut"
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya" Dari berbagai versi hadis yang ada, telah terbukti bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar" Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.
Lailatul Qadar mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena malam tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut turunlah para malaikat (termasuk malaikat Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam tersebut akan penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama).
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh di sini adalah tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya kalian kehilangan hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian melewatkan malam-malam terakhir bulan tersebut"
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya" Dari berbagai versi hadis yang ada, telah terbukti bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar" Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.
Langganan:
Postingan (Atom)