Kamis, 25 November 2010

PENGARUH PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA SISWA

by. Anne Ahira

Perpustakaan adalah sebuah tempat dimana Anda bisa menemukan banyak jenis informasi di sini. Anda bisa menemukan perpustakaan di mana pun, termasuk sekolah. Perpustakaan sekolah adalah salah satu fasilitas yang wajib ada dan didirikan sebagai sumber informasi, baik dalam bentuk cetak (buku) maupun digital (data komputer).

Pengaruh Perpustakaan Sekolah

  • Sebagai sumber informasi, perpustakaan tentu akan menambah pengetahuan para siswa sekolah. Manfaat perpustakaan yang satu ini bisa mempermudah proses belajar dan membuat prestasi siswa meningkat.
  • Perpustakaan sekolah membuat minat baca siswa meningkat. Bila minat baca meningkat, tentu hal ini juga akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.
  • Siswa diperbolehkan untuk meminjam buku-buku di perpustakaan sekolah sesuai dengan buku apa yang mereka inginkan. Hal ini cukup membantu siswa untuk berhemat agar siswa tak perlu membeli buku yang mungkin harganya cukup mahal.
  • Secara tidak langsung, perpustakaan sekolah mengajarkan disiplin pada siswa. Dalam perpustakaan, selalu ada aturan-aturan yang harus dipatuhi. Misalnya, siswa yang membaca di perpustakaan tidak boleh berisik, atau buku yang dipinjam harus dikembalikan setelah periode tertentu.
  • Perpustakaan sekolah bisa menjadi salah satu alternatif bagi siswa sebagai tempat untuk menghabiskan waktu istirahat sekolah. Hal ini cukup berpengaruh pada siswa, karena akan membuat mereka melakukan hal yang lebih berguna daripada sekedar ke kantin atau mengobrol dengan teman.

Faktor yang Menentukan Kualitas Perpustakaan Sekolah

Walau sudah banyak yang mengetahui tentang manfaat perpustakaan bagi prestasi siswa, kadang banyak pula siswa yang tetap malas untuk pergi ke tempat ini. Hal ini bisa saja terjadi karena kurangnya kualitas perpustakaan, sehingga siswa enggan kemari.

Berikut ini adalah beberapa contoh faktor-faktor apa saja yang menentukan kualitas suatu perpustakaan sekolah.

Perpustakaan sekolah harus memperhatikan kualitas buku-buku yang menjadi koleksinya. Bila hanya menyediakan buku-buku berkualitas rendah dan tidak dibutuhkan siswa, hal ini bisa dimaklumi bila siswa enggan ke perpustakaan.

  • Kelengkapan buku

Tak hanya kualitas, kelengkapan buku juga berpengaruh. Perpustakaan yang menyediakan banyak buku beragam, tentu akan menarik para siswa untuk datang, membaca, atau bahkan meminjamnya.

  • Kualitas pelayanan

Yang tak kalah penting adalah pelayanan petugas perpustakaan sekolah. Petugas haruslah ramah, tahu betul tentang dunia literasi, hapal dengan penempatan buku-buku tertentu, dan juga selalu siap membantu para siswa yang ingin mencari sebuah buku.

  • Kenyamanan tempat

Kenyamanan sebuah perpustakaan sekolah juga bisa memengaruhi minat siswa pada perpustakaan. Kenyamanan bisa berupa kebersihan, penerangan ruangan, ketenangan, dll.

  • Kelengkapan media penunjang

Media penunjang yang dimaksud misalnya komputer untuk pencarian buku atau layar televisi untuk pemutaran film-film edukasi.

Perpustakaan sekolah ternyata berpengaruh besar pada pendidikan siswa, baik dalam pendidikan pelajaran maupun pendidikan kedisiplinan. Namun, untuk mencapai pengaruh yang baik ini, sudah semestinya kualitas perpustakaan ditingkatkan.

Sabtu, 06 November 2010

Perpustakaan Sekolah Harus Jadi Alternatif Sumber Ilmu

Jakarta, Kompas - Keberadaan perpustakaan sekolah tidak sebatas tempat penyimpanan buku paket pelajaran, tetapi justru harus mampu menyajikan alternatif sumber ilmu yang dibutuhkan dan selama ini sulit diakses siswa.
Terlebih lagi ada kecenderungan pola pengajaran di SD pada umumnya bersandar pada buku paket yang ditentukan sekolah. Ironisnya, sering kali buku paket tersebut hanya dari satu penerbit dan dipilih berdasarkan kedekatan pengelola sekolah dengan penerbit tertentu. Kondisi ini tidak memicu keinginan siswa untuk mencari sumber bacaan atau informasi di luar buku paket. Murid tidak mempunyai alternatif pengetahuan lain.
“Perpustakaan sekolah kerap tidak menjadi perhatian. Pernah saya melihat perpustakaan disatukan dengan laboratorium fisika dan tempat penyimpan alat olahraga. Padahal, sekolahnya terbilang bagus,” kata Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) Fuad Gani, Rabu (27/4), di sela-sela acara Pelatihan Manajemen Perpustakaan bagi Siswa dan Guru di Kampus UI Depok.
Bahkan, dalam penelitiannya pada Desember 2003, terungkap sekitar 20 persen siswa menyatakan sekolahnya tidak mempunyai perpustakaan. Dengan kata lain, dari 50 sekolah yang diteliti, delapan sekolah tidak memiliki perpustakaan.
Dia mengatakan, kualitas perpustakaan sekolah sangat bergantung pada komitmen kepala sekolah. Selama ini, kepala sekolah cenderung lebih tergiur membangun fasilitas sekolah seperti lapangan, membuat sekolah bertingkat, atau membeli pendingin ruangan, tetapi perpustakaan-terutama koleksinya-sering luput.
Fuad mengungkapkan, idealnya perpustakaan sekolah berisi buku pendamping. Buku juga harus lebih spesifik, yakni yang dibutuhkan anak untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar tetapi sulit diakses anak, baik karena harga mahal atau terbatas. Sekolah tidak perlu ragu pula untuk menarik minat anak datang ke perpustakaan dengan menyediakan buku fiksi, komik, dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif.
Di Amerika misalnya, variasi sumber buku di perpustakaan SD rasionya sudah satu anak berbanding 40 judul buku. “Kalau di Indonesia masih jauh untuk mencapai angka itu. Jika dapat mencapai rasio satu berbanding lima saja sudah baik,” katanya.
Perpustakaan juga tidak sebatas koleksi cetakan, tetapi dapat diperluas medianya atau multimedia, seperti dilengkapi dengan audiovisual, digital, dan online.
“Perpustakaan sangat penting di tingkat SD. Pada masa itulah anak dapat dibiasakan kreatif mencari berbagai sumber informasi. Apalagi sekeluarnya dari lembaga pendidikan anak dihadapkan pada kenyataan di masyarakat yang sangat komprehensif dan perlu dilihat dari berbagai aspek,” kara Fuad. (INE)

Senin, 20 September 2010

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :
Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’, atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh kemenangan.
Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.
Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan surga-Nya’.
Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri, adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.
Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan kenikmatan surgawi.
Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ?
Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk. Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ? Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujian-Nya. Wallahua’lam.
Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan tawbatan nashuha.
Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.
Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran, agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara lebih ringan.
‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masa-masa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT. Wassalam.
Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .

Senin, 16 Agustus 2010

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

Ada sebuah hadits yang berbunyi “ shoumu Tasikhu” berpuasalah agar kamu sehat, ternyata setelah dilakukan uji klinis di zaman technology modern ini hadits tersebut terbukti kebenarannya. Puasa membuat tubuh tak mendapat asupan makanan selama lebih dari 12 jam. Itulah yang kemudian memicu kekhawatiran sebagian orang bahwa puasa akan memperburuk metabolisme tubuh akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

AJ Carlson, Profesor Fisiologi di Universitas Chicago, mengatakan, puasa justru memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Puasa didefinisikan sebagai periode tubuh pantang mengasup semua jenis makanan atau makanan tertentu. Carlson menjelaskan bahwa puasa justru memberi kesempatan tubuh mengeluarkan racun melalui aliran darah, pori dan organ pembuangan lain. “Puasa akan menyempurnakan proses pembersihan tubuh atau detoksifikasi.”

Lemak tubuh yang tidak bermanfaat, racun yang terakumulasi dalam sel tubuh akan dikeluarkan. Sel yang sakit, sel-sel mati, lapisan lendir menebal di dinding usus, limbah aliran darah juga dikeluarkan lewat hati, limpa, dan ginjal. Dengan pilihan makanan yang tepat saat sahur dan buka, metabolisme tubuh tak akan terganggu. Secara teori medis, kata Carlson, orang sehat dan tidak memiliki masalah stres serta gangguan emosi dapat bertahan tanpa makanan selama 50-75 hari.

Usahakan mengkonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur. Sifatnya lebih lambat dipecah menjadi gula darah sangat membantu metabolisme energi tubuh. Menu karbohidrat ideal makan sahur antara lain nasi merah, oatmeal, roti gandum, ubi, jagung, atau singkong. Jangan lupakan juga sayur dan buah untuk memaksimalkan proses detoksifikasi. Jadi tak perlu khawatir dengan sakit saat berpuasa, mudah-mudahan dengan berpuasa kita menjadi sehat baik jasmani maupun Rohani.

by Achmad Sholeh

Hakekat Ibadah Puasa

Diantara rahasia dan hakekat Puasa Ramadhan dapat disimpulkan menjadi tujuh perkara yang dapat dirasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan:

1. Menguatkan Jiwa
Dalam hidup ini, tak sedikit didapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, didalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu dan akan mengalihkan penuhanan dari Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nyadan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (Qs. Al Jaatsiah, 45: 23)
Maka dengan ibadah puasa manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doanya dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda :
“Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: Doa pemimpin yang adil, do’a orang yang berpuasa hingga berbuka, dan do’a orang yang dizalimi. Allah Ta’ala mengangkat do’anya keatas awan dan dibuka baginya pintu-pintu langit, dan Allah Tabaraka Wata’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku sungguh pasti aku akan menolongmu tak lama lagi.”" (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Mjjah.

2. Mendidik Kemauan
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu Rasulullah Saw menyatakan:

“Puasa itu setengah dari kesabaran.” (HR. Ibn Majah, shahih dari Abu Hurairah)

Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Menyehatkan Badan
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Oleh karena itu diwaktu berbuka puasa, tidak boleh terlalu banyak makan sekalipun makanan itu halal sehingga perut tidak mampu memuatnya lagi, akibatnya perut menjadi sakit karena terlalu penuh diisikan makanan dan minuman.

Para ulama mengatakan: “Tidak ada suatu wadah yang paling dibenci Allah dari pada perut yang penuh terisi dari pada apa-apa yang halal.” Bagaimana kalau sampai terisi dari makanan dan minuman yang haram? Inilah hikmah puasa yang sangat besar, yang tujuan utamanya ialah menentang segala macam yang tidak baik, kemaksiatan dan kemungkaran. Juga untuk mematahkan kehendak hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat untuk melaksanakan ketaqwaan kepada Allah Swt. Dengan berpuasa badan menjadi sehat dan kuat, sehingga ibadah kepada Allah dapat dilakukan dengan maksimal.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.
Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya. Allah Swt berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim, 14: 7)

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Irak, Palestina, Pakistan, Afganistan dan sebagainya.
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah Swt berfirman :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka,dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Qs. At Taubah, 9: 103)

6. Melatih Diri Untuk Menundukkan Musuh Allah
Musuh Allah Swt yaitu syetan (baik dari kalangan jin maupun manusia) menggunakan sarana syahwat untuk mengalahkan lawannya (manusia). Syahwat terbagi menjadi dua macam, yaitu syahwat yang timbul dari perut dan dari kemaluan. Syahwat ini bisa menjadi bertambah kuat karena makanan dan minuman. Selama ladang syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran ditempat gembalaan yang subur itu. Tetapi jika syahwat dipersempit dengan berpuasa maka jalan kesana juga menjadi sempit bagi si syetan itu.
Ada banyak riwayat yang menjelaskan bahwa syetan terbelenggu didalam bulan ramadhan sehingga menjadi sempit ruang geraknya menggoda manusia disebabkan karena manusia sedang berpuasa. Sebuah riwayat dari sahabat Anas Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya syetan itu berjalan pada tubuh anak Adam mengikuti aliran darah.” (HR. Ahmad, Bukhari Muslim dan Abu Daud).
Orang yang berpuasa berarti mengurangi makan dan minum. Ladang syahwat menjadi sempit, saluran darah mengecil sehingga kebebasan syetan menggoda terhalang, kemudian potensi jahatnya terbelenggu. Inilah keistimewaan shiyam yang memiliki potensi mengalahkan musuh Allah Swt.

7. Menahan Seluruh Anggota Tubuh Dari Perbuatan Dosa
Khususnya memejamkan mata dan mengekangnya dari melihat yang diharamkan Allah, menjaga lisan dari perkataan yang berdosa dan kotor, jelek dan menjijikkan, menahan pendengaran dari mendengarkan apa saja yang tidak disenangi menurut ukuran agama, karena setiap perkara yang haram diucapkan maka menjadi haram pula mendengarkannya, menahan tangan dan kaki jangan sampai mengerjakan hal-hal terlarang dari segi agama, demikian pula menahan perut dari memakan apa-apa yang haram dan syubhat. Sebab apabila orang yang berpuasa memakan sesuatu yang haram atau syubhat berarti sia-sialah puasa yang dikerjakan. Jika semua ini telah difahami dapatlah kita mengambil kesimpulan sesuai dengan apa yang telah dipesankan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:

“Banyak sekali orang yang berpuasa, padahal dia tidak dapat hasil apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus saja.” (HR. An Nasa’i dan Ibn Majah)
Wallahu’alam…
Source : abujibriel.com

Sabtu, 03 Juli 2010

Melihat (Ciptaan) Allah

Pernahkah kita menengok langit yang biru di siang hari dan berwarna oranye di sore hari? Pernahkah kita menyentuh embun di pagi hari? Pernahkah kita menikmati rembulan di malam purnama?

Namun juga pernahkah kita merasa bahwa kita sedang “melihat” (ciptaan) Allah. Melihat disini artinya melihat dengan mata hati. Melihat dengan ruhani yang bersih.

Niscaya jika sampai tersentuh dengan semua Ciptaan Allah ini, air mata akan menetes. Mata akan basah “melihat dan bahkan merasakan” keagungan Ilahi. Langit, bintang, bulan, matahari, awan dan berbagai keindahan alam ini menjadi sebuah ayat yang “hidup” dalam diri kita.

Itulah mengapa Al Quran dengan indahnya menyentuh hati ini dengan orang yang sadar akan semua perubahan itu sebagai seseorang yang tergolong Ulil Albab, Manusia Tercerahkan, Manusia yang memiliki indra paripurna.

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

Kalau kita sampai merasakan perubahan di alam semesta ini kemudian sampai meneteskan air mata karena terharu menyadari akan Kebesaran Ilahi, beruntunglah ! Beruntung karena dalam perjalanan hidup kita ternyata sentuhan Alam sudah cukup memberikan bukti akan Allah. Pergantian hari yang dirasakan setiap hari menjadi sesuatu yang penuh dengan hikmah bagi ruhani ini.

Ini bisa juga berarti kita telah melihat Ciptaan Allah dalam sebenar-benarnya.

Pandanglah sekali lagi langit dengan mata bathin.Jangan hanya memandang dengan kedua mata kita. Niscaya bathin ini akan menembus dunia hakikat. Mata Ruhani ini akan membuat pergantian waktu menjadi sesuatu yang mempertembal keyakinan betapa Allah hadir sangat dekat.

Membuka Pintu Rezeki dengan Shalat Dhuha

Bagaimana agar rezeki kita dimudahkan? Adakah ibadah membantu kita untuk memperlancar datangnya rezeki? Ada dan shalat dhuha adalah jawabannya. Shalat dhuha adalah ibadah shalat yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Shalat sunnat ini yang dilakukan seorang muslim saat waktu dhuha.Waktu dhuha tiba saat matahari mulai naik, kira-kira tujuh hasta sejak terbitnya. Atau sekitar pukul tujuh pagi hingga waktu dzuhur. Jumlah raka''''at shalat dhuha, dari dua hingga duabelas raka''''at.Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Rasulullah bersabda di dalam Hadists Qudsi,“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani)Dalam hadist yang lain dikatakan,“Barangsiapa yang masih berdiam diri di mesjid atau tempat shalatny setelah shubuh karena melakukan I’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun bnyaknya melebihi buih di lautan.” (HR. Abu Daud)"Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu." Para shahabat bertanya, "Siapa yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Dahak yang di masjid itu lalu ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Ahmad dan Abu Daud)Shalat-shalat sunah sangat dianjurkan. Karena ada faedah yang terkandung di dalamnya. Salah satunya untuk membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya. Di antara shalat sunah tersebut adalah shalat dhuha.Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain :"Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan." (H.R Turmudzi)Selengkapnya tabir emas dibalik shalat dhuha, dapat Anda baca dalam buku Keajaiban Shalat Dhuha. Buku berpengantar Dr. K.H. Muslih Abd. Karim, MA ini ditulis Muhammad Abu Ayyas. Buku berjumlah halaman 140 ini, pun menjelaskan cara mudah mencari rezeki. Dalam buku ini mengandung pesan: sebab rezeki hak semua orang dan kemiskinan mendekati kekufuran, maka ibadah dan usaha adalah jawabannya.Dengan mengenal keutamaan dan keajaiban shalat dhuha, maka kaum muslim akan lebih tergerak untuk merawat shalat sunah ini. Dan temukan manfaat dari buku Keajaiban Shalat Dhuha yang diterbitkan oleh QultumMedia.
oleh: AdeHidayat